RNI: Supaya tak ambruk, kami mengandalkan penjualan gula

"‎Untuk mengkompensasi kerugian dari harga komoditas yang masih lemah."

Novita Intan Sari
Oleh Novita Intan Sari - Reporter
RNI: Supaya tak ambruk, kami mengandalkan penjualan gula
gula. ©2012 Merdeka.com

PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) berharap penjualan gula dapat menopang pendapatan perseroan tahun ini. Mengingat harga komoditas lain andalan perusahaan pelat merah itu, seperti karet, teh, dan CPO, tengah melemah.

"‎Untuk mengkompensasi kerugian dari harga komoditas yang masih lemah, supaya enggak ambruk, kami mengandalkan gula," kata Direktur Strategi Bisnis dan Inovasi RNI Djoko Retnadi, Jakarta, Selasa (23/6).

Menurutnya, harga jual gula ditetapkan pemerintah sangat bagus. "Tertinggi untuk operasi pasar sebesar Rp 8.900 per Kilogram."

Djoko mengapresiasi keputusan pemerintah untuk tak mengimpor gula. Ini membuat harga gula di pasar lokal membaik.

"Tahun lalu waktu masih impor, harga jual gula sangat rendah Rp 7.000 per Kg. Berat banget buat kami, karena harga produksi saja sudah diatas Rp 7.000, jadi rugi," jelas dia.

Menurut Djoko, kebutuhan gula di dalam negeri mencapai 4,5 juta sampai 5 juta ton setiap tahun. Jumlah ini terdiri dari 2,5 juta ton untuk konsumsi masyarakat dan sisanya untuk industri makanan dan minuman.

Sayangnya perusahaan pelat merah ini hanya mampu memproduksi 350 ribu ton gula per tahun.

"Itu dari delapan pabrik gula. Diharapkan dengan iklim yang mendukung, produktivitas tebu bisa meningkat sehingga kami bisa meningkatkan produksi hingga di atas 90 ton per hektar."

Rekomendasi