Program swasembada pangan sejatinya sudah dicanangkan sejak satu dekade lalu oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, hingga masa pemerintahan SBY berakhir Oktober 2014, swasembada gula belum juga terwujud.
Mengapa cita-cita itu gagal diwujudkan? "Karena tidak pernah ada pendirian pabrik gula baru, penambahan lahan juga tidak ada, bagaimana mungkin," ujar Direktur Utama PT Rajawal Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro di kantornya, Jakarta, Rabu (10/12).
Jangankan melakukan dua hal itu, menurut Ismet, revitalisasi pabrik gula tua saja ogah-ogahan. Alhasil, produksi gula lokal tak pernah meningkat.
Ini menjadi celah masuknya gula impor untuk memenuhi lubang kebutuhan konsumsi dalam negeri. Kalau sudah begini, produsen gula lokal kian terpukul.
"Ketika 2012 kami ada laba, pabrik bisa direvitalisasi. Tapi sekarang nggak bisa," jelas dia. "Pabrik gula lama tidak ada pendanaan untuk revitalisasi karena mereka tak bisa jual gulanya, gulanya diserbu gula rafinasi."
Dia meminta pemerintah menghentikan perembesan gula rafinasi ke pasar tradisional. Menurutnya, praktik itu dilakukan oleh oknum pejabat.
"Pak Jokowi dan Pak JK juga Mendag juga saya kira sudah tahu apa permasalahannya. Oknum pejabat tersebut harus diganti dengan yang lebih bersih."