Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia bekerja sama menggelar pelatihan kewirausahaan bagi narapidana dan tenaga pemasyarakatan. Program itu sudah diujicoba di Lapas Kelas II A di Pontianak, Kalimantan Barat, sejak awal tahun ini.Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyatakan, pelatihan yang diberikan penyuluhnya di Pontianak terhitung sukses. Soalnya, para napi dalam waktu singkat berhasil memproduksi tikar dari kayu yang punya nilai jual. "Bahkan produk yang dihasilkan oleh narapidana telah menembus pasar ekspor," ujarnya di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (18/9).Kerja sama dua instansi ini berjalan mulai tahun ini sampai 31 Desember 2018. BI akan memberi pendampingan usaha mencakup teknik menggenjot kapasitas usaha, sarana prasarana, serta cara membuka akses pemasaran.Agus menjelaskan, pihaknya menargetkan para narapidana itu bisa terjun ke sektor-sektor bisnis pangan. Utamanya jenis pangan pemicu inflasi.Ini berkaca pada keberhasilan narapidana di Lapas Pontianak menghasilkan demplot budidaya bawang merah. Bumbu masak itu adalah pemicu inflasi utama di Kalbar.Mana saja lapas yang akan diberi pelatihan, disesuaikan dengan klaster ketahanan pangan susunan kantor perwakilan BI daerah. Ada beberapa wilayah khusus sudah dipetakan, yakni yang cocok buat ditanami padi, cabai merah, daging sapi, bawang merah, serta bawang putih.Harapan Agus, narapidana sejahtera berjualan hasil bumi, inflasi pun bisa diatasi karena muncul tambahan pasokan bahan pangan."Mulai tahun ini, BI melakukan pemberdayaan narapidana, di lembaga pemasyarakatan dengan memanfaatkan lahan lembaga pemasyarakatan dalam pengembangan komoditi ketahanan pangan," kata Gubernur BI.
Narapidana diusulkan budidaya produk pangan pemicu inflasi
Harapan Agus, narapidana sejahtera berjualan hasil bumi.
Advertisement
Rekomendasi