Pendulum nasional atau yang beken disebut tol laut konsep presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) bakal menghubungkan jalur logistik laut antar pulau di seluruh wilayah Indonesia. Pembangunannya disebut-sebut tidak akan memakan waktu terlalu lama.
Direktur utama PT. Pelindo II Richard Joost Lino menuturkan, jika pemerintahan Jokowi serius mengerjakan proyek ini maka dalam waktu dua tahun bakal selesai. Dana yang dibutuhkan pun disebut-sebut tidak terlalu besar.
"Ini kalau dikerjakan benar, dua tahun juga beres. Dananya tidak besar. Saya akan sampaikan ke pemerintah. Kalau kita dikasih kesempatan untuk mengatur semua, Pelindo I, II, III, IV dan kita komit inves USD 5 miliar, kita raise fund-nya, Indonesia beres itu lima tahun," kata Lino di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (3/9).
Dari penjelasannya, Indonesia memiliki 22 pelabuhan, dimana untuk penataan memerlukan waktu 5 tahun dengan biaya USD 5-6 miliar.
"Itu mulai dari Belawan. Bukan hanya Belawan, kita bikin dari Kuala Tanjung tapi untuk kontainer lebih dari 10.000. Jakarta sudah ada, Surabaya diberesin, Makassar, sama Sorong. Ini yang besar. Kemudian pelabuhan seperti Dumai, Palembang, Teluk Bayur, Panjang, Pontianak, Pelabuhan Baru di Banjarmasin, kemudian di Balikpapan, Pantoloan, Bitung, Denpasar, Sorong, Jayapura, kurang lebih 20 pelabuhan, itu kalau diberesin, dalam lima tahun ini beres semua," jelas dia.
Dari hasil studi Oxford Economics, jika pemerintah bisa memperbaiki pelabuhan dan jasa pelayanan maka levelnya akan setara dengan negara ASEAN lainnya. Dari sisi pertumbuhan ekonomi, diprediksi bakal bertambah 0,31 persen.
"Jadi kalau 5 persen jadi 5,31 persen. Diberesin produktivitasnya sama dengan Singapura, itu tambah 0,78 persen. Very powerful, gede banget. Padahal beresin itu tidak ada high technya," kata dia.
Namun, diakuinya, bagian yang paling besar pada soft sidenya. Misalnya ICT di sisi regulasi, perizinan mulai bea cukai, perdagangan, perindustrian, pertanian, terkait dengan karantina, hal ini yang sekarang menjadi persoalan.
"Logistic cost kita dibilang mahal. mahalnya begini, tarif yang berlaku sama ongkos pelabuhan, ongkos angkut, itu paling 35 persen, yang 65 persen itu inventory," ucap dia.
Menurut dia, biaya kontainer yang menginap di pelabuhan (lodging cost) mahal bukan karena transportasi tetapi karena bongkar muat. Hal ini disebabkan prediktibilitas tidak ada di samping pelabuhannya juga harus dibenahi.