Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2014 sebesar 5,21 persen diyakini bakal berdampak lebih besar bagi perkembangan industri perbankan syariah.
"Perbankan syariah itu sangat dekat sekali dengan sektor riil. Sehingga, melambatnya pertumbuhan ekonomi juga akan membuat pertumbuhan pembiayaan di perbankan syariah melambat," ujar Deputi Komisioner OJK Bidang Pengawasan Perbankan, Mulya Effendi Siregar di Gedung OJK, Jakarta, Jumat (9/5).
Menurutnya, pembiayaan bank syariah jarang sekali yang ditempatkan di instrumen keuangan. Sebab instrumennya masih terbatas. "Sebagian besar portofolio perbankan syariah digunakan untuk membiayai sektor riil," jelas dia.
Terkait kebijakan moneter yang disebut-sebut menjadi bagian dari perlambatan ekonomi, OJK berharap Bank Indonesia tetap menjaga suku bunga acuannya (BI Rate).
"Jika BI Rate kembali naik, maka perbankan akan menjadi repot lagi, tetapi bersyukur tidak dinaikkan lagi," ungkapnya.
Seperti diketahui, Bank Indonesia telah merevisi target pertumbuhan ekonomi 2014 menjadi 5,1-5,5 persen atau lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,5-5,9 persen. Bahkan berdasarkan kajian BI, pertumbuhan ekspor riil barang dan jasa di 2014 hanya sebesar 1,5-1,9 persen atau jauh lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang mencapai 8,1-8,5 persen.