Sekretaris Indonesia Petroleum Association (IPA) Sammy Hamzah mengeluhkan rumitnya investasi di sektor minyak dan gas bumi (migas). Karena itu dia menganggap wajar jika banyak operasi proyek migas tertunda begitu lama.
Sammy menerangkan, investor banyak menemui kendala jika ingin berinvestasi di sektor migas. Akibatnya, sektor migas Indonesia kurang diminati.
"Kondisinya saat ini banyak kendala dalam investasi di bidang migas, mulai dari masalah perizinan, pajak, sulitnya pembebasan lahan, masalah dengan pemerintah daerah, dan banyak lagi," ujar Sammy di Jakarta, Senin (5/5).
Sammy menerangkan banyaknya tahapan yang harus dilewati membuat sejumlah proyek tertunda. Hal itu kemudian menimbulkan ketidakpastian yang berpengaruh pada tertundanya bahkan tidak selesainya suatu proyek.
Padahal, terang Sammy, kebutuhan akan minyak semakin banyak dan tidak dapat tercukupi jika mengandalkan sumur yang ada. Menurut dia, kondisi investasi yang rumit justru semakin memperburuk keadaan.
"Asal tahu saja, saat ini tingkat penemuan cadangan minyak baru dari stok produksi minyak tahun 2013 hanya 46,6 persen, artinya cadangan minyak kita semakin berkurang," ungkap Sammy.
Sammy berkaca pada era Ibnu Sutowo saat memimpin Pertamina. Dia menjelaskan, sistem yang dipakai untuk investasi di sektor migas saat ini masih menggunakan sistem sama seperti yang digagas Ibnu Sutowo yaitu kontrak bagi hasil produksi (Production Sharing Contract/PSC).
"Zaman Ibnu Sutowo dulu investor mendapat jaminan investasi di bidang migas," pungkas dia.