Rencana pembangunan kilang pengolahan minyak disambut positif oleh pelaku industri petrokimia. Sebab, kilang tersebut dapat menjawab persoalan keterbatasan pasokan bahan baku industri petrokimia dalam negeri berupa nafta dan kondensat.Wakil Ketua Umum The Indonesia Olefin and Plastic Industry Association (Inaplas) Suhat Miyarso, mengatakan pembangunan kilang ini dapat mengurangi ketergantungan industri petrokimia terhadap impor nafta dan kondensat. Selama ini, nilai importasi bahan baku tersebut rata-rata setiap tahun mencapai USD 8 miliar."Pemerintah bangun kilang untuk tambah pasokan. Kita harapkan sampai 30 persen. Supaya bisa hilangkan impor sehingga nanti 2020 bisa mandiri dan independen," ujar Suhat di Jakarta, Selasa (11/3).Suhat mengaku impor bahan baku sangat memberatkan industri petrokimia dalam negeri. Ini lantaran bahan baku tersebut dibeli dengan harga yang jauh lebih mahal karena menggunakan mata uang asing.Sementara itu, Ketua Umum Inaplas Amir Sambodo, mengatakan kilang tersebut harus dibangun untuk mengolah bahan bakar dengan oktan minimal 91 agar dapat memberikan nilai tambah. "Bertahan di premium, berarti disubsidi. Harganya ketinggalan," ungkap Amir.Lebih lanjut, Amir menerangkan industri hulu minyak dan gas bumi juga perlu mengubah orientasi agar tidak melulu mengekspor bahan baku industri petrokimia. Sebab, menurut dia, permintaan nafta dan kondensat di masa mendatang akan semakin membesar. "Itu (kebutuhan bahan baku) bisa dipenuhi dari dalam negeri, asal tidak diekspor," pungkas dia.
Kilang baru bakal dorong pengembangan industri petrokimia
Pembangunan kilang dapat mengurangi ketergantungan industri petrokimia terhadap impor nafta dan kondensat.
Rekomendasi