Bupati Belu tak sudi impor listrik dari negara tetangga

Daripada mengimpor listrik, Kabupaten Belu membangun 5 PLTS untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Bupati Belu tak sudi impor listrik dari negara tetangga
listrik. merdeka.com

Cerita soal kondisi infrastruktur di pulau terluar atau perbatasan Indonesia yang memprihatinkan, bukan hal baru. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan listrik saja harus disuplai dari negara tetangga.

Hal itu diakui Bupati Belu, Yoaki Lopez. Belu merupakan salah salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan Timor Leste. Menurut Yoaki tingkat elektrifikasi atau daerah yang telah dialiri listrik baru 40 persen.

"Tingkat elektrifikasi kita masih 40 persen. Banyak yang belum tersentuh PLN menuju perbatasan," ucap Yoaki ketika ditemui di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta, Rabu (15/1).

Namun Yoaki mengaku tidak pernah mengambil listrik dari Timor Leste. Yoaki menegaskan, ini masalah harga diri bangsa. Secara jujur dia merasa malu jika Indonesia harus membeli atau impor listrik dari negara yang dulu bagian dari Indonesia itu.

"Tidak, tidak, kita tidak impor. Malu kita beli listrik. Sekarang yang belum terjangkau PLN kita bangun PLTS," tegasnya.

Dari pengakuan Yoaki, daerah yang dipimpinnya saat ini sudah mempunyai 5 PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dengan kapasitas keseluruhan sebesar 100 KW. Untuk kedepannya, dia akan menambah 3 PLTS lagi dengan kapasitas masing-masing PLTS mencapai 50 KW.

"Kami bangun terus ada 3 lagi. Ini investasi dari pemerintah. 50 KW itu bisa untuk 200 kepala keluarga. Jadi ada 3 bisa untuk 600 kepala keluarga. Dana sudah dialokasikan Kementerian ESDM. Jumlahnya saya lupa," tutupnya.

Rekomendasi