Menteri Keuangan Chatib Basri melihat gejolak yang tengah terjadi di Amerika Serikat, dalam jangka panjang tidak akan berdampak langsung terhadap kondisi perekonomian dunia. Namun diakuinya, berhentinya aktivitas beberapa kantor pemerintahan Negeri Paman Sam itu membuat semua negara gugup menanggapinya.
"Shutdown ini bikin nervous di semua negara. Lihat saja emerging, semua stock market di Asia kemarin merah kan? Termasuk Indonesia, tapi dugaan saya nanti akan ada kompromi politik lah," ujar Chatib di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (1/10).
Dia meyakini, penutupan sejumlah kantor pemerintahan di AS tak akan berdampak negatif bagi Indonesia. Chatib juga yakin Amerika tidak akan benar-benar bangkrut.
"Kalau kolaps, gajinya dia enggak bisa bayar, bondnya segala macam biayanya dari mana? Ini biasa lah deadlock-deadlock nanti juga baik," ucapnya.
Senada dengannya, Staf Khusus Presiden Bidang Perekonomian Firmanzah juga melihat kejadian di AS tidak akan berdampak pada gejolak ekonomi dalam negeri. Tutupnya beberapa kantor pemerintahan AS justru berdampak pada pelayanan publik, terhadap investasi, dan hal-hal lainnya.
"Efeknya lebih pada jalannya pemerintahan di AS. Sampai sekarang masih tersisa USD 30 miliar untuk cash. Kita tetap berharap kejadian seperti pada tahun 2011 tidak berkepanjangan. Di tahun itu, pernah juga ada ketidaksepakatan antara kongres dan pemerintah," jelas Firmanzah.
Namun, terhentinya sebagian aktivitas pemerintahan AS berdampak pada likuiditas dolar di seluruh dunia. Kondisi ini berbeda dengan rencana The Fed yang akan mengurangi stimulus moneter.
"Kalau ini lebih ke arah bergeraknya roda pemerintahan AS. Meskipun memang tidak nyaman menyampaikannya tetapi paling tidak, tidak ada pengaruhnya secara langsung. Investor sekarang posisi wait and see terkait risiko shutdown pemerintahan AS. Kalau mau dikaitkan dengan Indonesia ya posisi wait and see investor tersebut," ucapnya.