Meningkatnya arus mudik dan adanya jaminan pelayanan optimal transportasi mudik dinilai bakal membawa perekonomian daerah akan membaik. Selain itu, meningkatnya transaksi perdagangan di seluruh tanah air sejalan dengan bertambah besarnya peredaran uang.
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah memperkirakan perputaran uang selama Ramadan dan Idul Fitri 2013 mencapai Rp 61 triliun. Perputaran uang tersebut utamanya di pusat-pusat mudik atau daerah yang menjadi tujuan mudik.
"Uang yang berputar selama Ramadan dan Idul Fitri 2013 diperkirakan berkisar Rp 61 triliun. Uang sebanyak itu berputar dari satu tempat ke tempat lainnya, terutama dari kota-kota ke desa-desa atau ke daerah-daerah yang menjadi pusat-pusat arus mudik," ujar dia seperti dikutip dalam situs setgab.go.id di Jakarta, Rabu (7/8).
Firmanzah menjelaskan, perputaran uang tersebut dibawa oleh para pemudik yang melakukan transaksi perdagangan ekonomi dengan menggunakan uang gaji dan Tunjangan Hari Raya (THR). Aktivitas ekonomi bisa terlihat dari pembelian oleh-oleh ataupun penggunaan jasa transportasi dan akomodasi. "Maupun memberikan kepada sanak keluarga di kampung halaman," jelas dia.
Sebelumnya, Momen hari raya Idul Fitri diprediksi mendorong gerak ekonomi sektor riil di daerah-daerah yang menjadi tujuan para pemudik. Imbasnya, pendapatan masyarakat yang biasanya terakumulasi di kota, bakal mengalir ke daerah-daerah.
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah menyatakan, data terakhir menyebutkan 30 juta orang mudik tahun ini, naik 6,7 persen dibanding 2012. Dengan demikian, redistribusi pendapatan hasil aktivitas para pemudik pada momen Lebaran 2013 cukup signifikan, sekitar Rp 90 triliun.
"Dana Rp 90 triliun ini mengalir baik dari pembayaran zakat, transportasi, konsumsi, belanja oleh-oleh, hingga kiriman untuk perbaikan rumah dan furniture-nya," kata Firmanzah.