Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyampaikan analogi nyeleneh saat menyambut rombongan misi dagang Jerman di Hotel Intercontinental, Jakarta, Senin (11/2).
Dia berharap bisa bersikap layaknya gitaris legendaris Jimi Hendrix dalam menjaga perdagangan Indonesia dengan negara manapun kawasan Eropa.
Dalam pandangannya, gitaris terbaik sejagat itu pernah tidak peduli bermain di hadapan 10 atau ratusan penonton. Yang terpenting permainan gitarnya jangan sampai sumbang.
"Saya pun berharap demikian, semoga saya tidak menjadi suara sumbang dalam kerja sama perdagangan di dunia. Saya ingin sikap kami mewakili kepentingan 250 juta warga Indonesia bisa dipahami pula oleh warga Munich," ujarnya di Jakarta Pusat, Senin (11/2).
Suara sumbang yang dia maksud adalah adanya kekhawatiran Eropa, khususnya Jerman, maupun Amerika Serikat, bahwa negara-negara kekuatan ekonomi baru seperti Indonesia mulai menerapkan proteksionisme.
Pandangan ini terkait pembatasan impor hortikultura yang membuat pemerintah diadukan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) oleh pengusaha Negeri Paman Sam. Menurut Gita, sikap pragmatis seperti pembatasan komoditas impor tertentu maupun meningkatkan bea masuk bakal terus terjadi selama situasi ekonomi Eropa masih lesu.
Selain itu, sebagian besar negara di dunia lebih suka kerja sama antar kawasan serumpun, dan tidak lagi bersemangat menggarap kerja sama lintas benua seperti satu dasawarsa lalu.
"Akan ada sentimen regionalisme selama pemulihan ekonomi belum terjadi. Itulah realitas perdagangan saat ini. Memang tidak mudah. Karena itu tidak ada yang ingin Eropa melemah," paparnya.
Di sisi lain, dia menjanjikan pembebasan pajak bagi pengusaha Jerman yang ingin berinvestasi di Indonesia. Syaratnya, penerimaan pajak dalam negeri bisa dioptimalkan. Sebab, saat ini baru 10 juta wajib pajak yang memenuhi kewajibannya.
"Bayangkan jika jumlah itu bisa kita tingkatkan menjadi 25-30 juta (pembayar pajak), itu bukan imajinasi. Kita bisa saja tingkatkan 10-20 persen potongan pajak bagi anda semua di sini," ungkap Gita.