Prajogo Pangestu, Orang Kaya RI Berharta Rp279 Triliun Kini Punya Perusahaan Terbesar di ASEAN Usai Akusisi Kilang Shell
Prajogo berada di peringkat keempat sebagai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan mencapai USD16,9 miliar atau Rp279,8 triliun (kurs Rp16.560).
Prajogo Pangestu, Orang Kaya RI Berharta Rp279 Triliun Kini Punya Perusahaan Terbesar di ASEAN Usai Akusisi Tambang Shell
Perusahaan energi global, Shell, baru-baru ini menyelesaikan penjualan kilang dan aset penyulingannya di Singapura kepada perusahaan patungan antara PT Chandra Asri Pasific Tbk (TPIA) dan Glencore. Langkah ini menjadi strategi besar yang semakin memperkuat posisi PT Chandra Asri Pasific Tbk sebagai pemain utama di industri petrokimia Asia Tenggara.
PT Chandra Asri Pasific Tbk merupakan perusahaan berbasis di Indonesia dengan kepemilikan mayoritas dalam usaha patungan tersebut. Perusahaan ini, dimiliki oleh sosok Prajogo Pangestu.
Melansir dari Forbes, Prajogo berada di peringkat keempat sebagai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan mencapai USD16,9 miliar atau Rp279,8 triliun (kurs Rp16.560).
Dengan akuisisi ini, Chandra Asri perusahaan yang berbasis di Indonesia, menjadi pemegang saham mayoritas dalam usaha patungan tersebut, memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain terbesar di industri petrokimia Asia Tenggara. Pemilik perusahaan tersebut adalah Prajogo Pangestu.
Dari Sopir Angkot hingga Orang Terkaya di Indonesia
Kesuksesan Prajogo Pangestu bukanlah hasil warisan atau privilese keluarga kaya. Lahir dari latar belakang sederhana, ia bahkan pernah bekerja sebagai sopir angkot pada tahun 1960.
Profesi itu menjadi titik awal perjalanan hidupnya menuju dunia bisnis. Saat menjadi sopir, ia bertemu dengan seorang pengusaha kayu asal Malaysia bernama Bon Sun On, yang lebih dikenal sebagai Burhan Uray. Pertemuan itu menjadi titik balik yang mengubah hidupnya.
Burhan Uray, pendiri PT Djajanti Group, melihat potensi besar dalam diri Prajogo dan merekrutnya sebagai karyawan. Dengan kerja keras dan dedikasi, ia naik jabatan menjadi General Manager (GM) di Pabrik Plywood Nusantara, Gresik, Jawa Timur, setelah tujuh tahun bekerja.
Merintis Kerajaan Bisnis
Setelah mendapatkan pengalaman berharga, Prajogo memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis sendiri. Ia mengambil langkah besar dengan meminjam modal dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk membeli perusahaan kayu CV Pacific Lumber Coy, yang saat itu tengah mengalami kesulitan keuangan.
Dengan insting bisnis yang tajam, ia mengubah perusahaan tersebut menjadi PT Barito Pacific, yang kemudian berkembang menjadi salah satu raksasa industri di Indonesia.
Di era pemerintahan Presiden Soeharto, Barito Pacific semakin berkembang dengan menjalin kerja sama strategis dengan berbagai perusahaan milik kolega dan anak-anak Soeharto. Namun, memasuki tahun 2000, industri pengolahan kayu mengalami penurunan. Dampaknya, beberapa pabrik perusahaan mulai ditutup pada periode 2004 hingga 2007.
Tidak menyerah dengan keadaan, Prajogo mengarahkan bisnisnya ke sektor petrokimia dan energi. Pada tahun 2007, ia mengakuisisi 70% saham PT Chandra Asri, perusahaan petrokimia terkemuka di Indonesia.
Keputusan ini terbukti tepat. Pada tahun 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia, menciptakan perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia yang masih mendominasi hingga saat ini.
Kerajaan Bisnis yang Terus Berkembang
Sumber kekayaan Prajogo Pangestu berasal dari berbagai perusahaan besar, seperti PT Barito Pacific Timber (BRPT), PT Chandra Asri Petrochemical (TPIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Tahun 2023 menjadi momentum emas bagi bisnisnya.
Kinerja keempat perusahaan miliknya menunjukkan pertumbuhan luar biasa, yang tercermin dari lonjakan harga saham mereka. Salah satu yang paling mencolok adalah PT Barito Renewables Energy, yang baru saja melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Oktober 2023.
Dalam sebulan terakhir, harga saham perusahaan ini meroket hingga 867,9 persen, menjadikannya salah satu pencetak keuntungan terbesar di pasar modal.