Peternak unggas mulai mengeluhkan dampak ekonomi berantai yang terjadi pascapelarangan penggunaan antibiotika tambahan atau antibiotik growth promoters (AGP) dalam pakan ayam. Sebab dengan adanya pelarangan ini perawatan unggas semakin rumit yang berimbas pada biaya produksi.
Salah seorang peternak unggas jenis ayam pedaging di Tulungagung, Rudi Anshori, mengungkapkan usaha ternak ayam buras yang ditekuninya saat ini dalam masa sulit karena tingginya biaya pakan dan perawatan selama satu periode masa ternak.
"Sekalipun harga (daging) ayam saat ini tinggi, biaya produksinya juga berlipat dua kali dan lebih rumit (perawatan), karena ternak lebih rentan terhadap penyakit," katanya seperti dikutip Antara di Tulungagung, Sabtu (4/8).
Jika disuruh memilih, Rudi mengaku lebih suka saat harga ayam potong atau ayam pedaging masih di kisaran Rp 13.000 hingga Rp 15.000 per Kilogram (Kg), dimana pakan saat itu masih menggunakan unsur AGP. Tidak seperti saat ini, harga daging ayam Rp 23.000 per Kg namun disertai biaya perawatan dua kali lipat.
"Rasanya lebih enak dulu (waktu masih pakai AGP). Meski murah, perawatan lebih mudah, ayam lebih gemuk dan tidak mudah kena penyakit. Ibaratnya (perawatan) sambil ditinggal tidur pun, bisa panen. Sekarang tidak bisa," jelasnya.
Rudi lalu membandingkan volume pakan dan durasi satu periode masa ternak, antara saat menggunakan AGP dan pascapelarangan. "Untuk kapasitas 2.000 ekor ayam pedaging, dulu saat pakan masih pakai AGP durasi ternak mulai bibit (DOC) hingga dewasa dan siap panen rata-rata 35 hari dengan volume pakan sekitar 135 sak (68 kuintal). Sekarang dengan tanpa AGP masa ternak lebih panjang menjadi 40-45 hari dengan volume pakan bisa 200 sak untuk satu periode masa ternak," tuturnya.
Rudi dan sejumlah peternak ayam pedaging lain sudah mencoba menggunakan suplemen nutrisi tambahan dari unsur herbal maupun susu, seperti jamu-jamuan, susu merek bear brand, yakult dan semacamnya. Pembersihan kandang kini juga lebih rutin, hampir tiap hari. Namun upaya itu masih belum mampu menekan biaya produksi maupun hasil panen ternak seperti saat pakan unggas masih menggunakan AGP.