Pertamina Batasi Pembelian Pertalite Dengan Jeriken

Senin, 28 Oktober 2019 18:14 Reporter : Arie Sunaryo
Pertamina Batasi Pembelian Pertalite Dengan Jeriken antrean di SPBU Solo. ©2014 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Merdeka.com - PT Pertamina (Persero) membatasi pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite dengan menggunakan jeriken. Pembatasan bertujuan agar penggunaannya lebih tepat sasaran.

Senior Supervisor Communication PT Pertamina Marketing Operation Region IV Jawa Tengah dan DIY Arya Yusa Dwicandra mengatakan, sesuai Perpres 191 Tahun 2014, pembelian pertalite menggunakan jeriken yang dilarang adalah yang tidak disertai dengan rekomendasi untuk kebutuhan tertentu. Diantaranya untuk pertanian, Perikanan dan usaha mikro/kecil.

"Salah satu latar belakang diaturnya pembelian pertalite dengan menggunakan jeriken ini karena banyaknya keluhan konsumen kendaraan. Mayoritas mengisi BBM pertalite terganggu dengan kegiatan pengisian jeriken tanpa rekomendasi yang kemungkinan untuk dijual kembali," ujar Arya di Solo, Senin (28/10).

Sesuai aturan, yang bisa membeli Pertalite dengan menggunakan jeriken adalah konsumen yang sudah mengantongi surat rekomendasi dari SKPD terkait. Termasuk jika pengecer membeli sesuai dengan rekomendasi SKPD setempat.

Kendati demikian, lanjut dia, sesuai aturan yang berlaku, SPBU merupakan lembaga penyalur terakhir penjualan BBM dari produsen yaitu Pertamina kepada konsumen.

"Artinya sebenarnya kalau dari Peraturan Presiden tersebut tidak untuk dijual kembali," jelasnya.

Pembelian dengan jeriken, kata dia, sesuai Perpres, itupun sebenarnya hanya diperuntukkan bagi petani, nelayan serta UKM yang memang jaraknya jauh dari SPBU. Mereka pun harus menunjukkan surat rekomendasi dari SKPD setempat, baik itu dinas terkait atau camat/lurah.

"Pembelian maksimal sesuai rekomendasi dinas setempat. Selama mengikuti aturan itu tidak kami batasi volume pembeliannya," katanya.

Sementara itu, tujuan dari surat rekomendasi tersebut selain agar penggunaan lebih tepat sasaran juga mempertimbangkan faktor keamanan.

"Faktor 'safety' atau keamanan dari bahan jeriken itu sendiri jadi catatan sehingga rekomendasi penting dikeluarkan," ucap dia. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini