Perajin Atap Rumbia Lebak Kewalahan Penuhi Permintaan Tinggi Akibat Kelangkaan Bahan Baku

Perajin Atap Rumbia Lebak menghadapi tantangan serius dalam memenuhi lonjakan permintaan konsumen akibat kelangkaan bahan baku daun kiray, memicu kekhawatiran akan keberlangsungan usaha tradisional ini.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Perajin Atap Rumbia Lebak Kewalahan Penuhi Permintaan Tinggi Akibat Kelangkaan Bahan Baku
Perajin Atap Rumbia Lebak menghadapi tantangan serius dalam memenuhi lonjakan permintaan konsumen akibat kelangkaan bahan baku daun kiray, memicu kekhawatiran akan keberlangsungan usaha tradisional ini. (AntaraNews)

Sejumlah perajin atap rumbia di Kabupaten Lebak, Banten, saat ini mengaku kewalahan melayani permintaan pasar yang terus meningkat. Keterbatasan bahan baku daun kiray menjadi kendala utama dalam memenuhi kebutuhan konsumen yang masif. Kondisi ini memaksa perajin mencari solusi alternatif untuk menjaga kelangsungan produksi mereka.

Permintaan atap rumbia melonjak signifikan untuk berbagai keperluan pembangunan, mulai dari saung rumah makan hingga rumah adat. Namun, pasokan daun kiray yang merupakan bahan baku utama semakin sulit didapatkan di wilayah Lebak. Akibatnya, perajin harus mencari sumber bahan baku dari daerah lain.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kapasitas produksi perajin, tetapi juga berpotensi mengancam keberlanjutan usaha kerajinan atap rumbia yang telah turun-temurun. Upaya ekstra diperlukan untuk memastikan ketersediaan bahan baku dan memenuhi ekspektasi pasar yang terus bertumbuh.

Lonjakan Permintaan dan Tantangan Produksi

Permintaan atap rumbia di Kabupaten Lebak menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi dari konsumen, terutama untuk pembangunan berbagai jenis struktur. Atap rumbia banyak digunakan untuk saung rumah makan, pondok pesantren, kandang ayam, rumah adat Badui, hingga gajebo, menunjukkan fleksibilitas dan daya tariknya di pasar.

Kokom, seorang perajin atap rumbia dari Pasir Eurih, Kabupaten Lebak, mengungkapkan bahwa pihaknya harus melayani permintaan hingga ribuan atap. Dalam dua pekan terakhir, ia berhasil memenuhi permintaan sekitar 10 ribu lembar atap dengan harga Rp2.500 per lembar, menghasilkan pendapatan kotor Rp25 juta.

Untuk mengatasi keterbatasan produksi, Kokom dan perajin lainnya terpaksa mengambil pasokan dari perajin lain. Mad Aceng, perajin rumbia lainnya, juga merasakan peningkatan permintaan dari 5.000 lembar menjadi 8.000 lembar per dua pekan.

Mad Aceng berhasil memenuhi permintaan tersebut, termasuk biaya angkut, dengan harga Rp3.000 per lembar, sehingga pendapatan kotornya mencapai Rp24 juta per dua pekan. Strategi ini menunjukkan upaya perajin untuk tetap memenuhi kebutuhan pasar meskipun menghadapi kendala bahan baku.

Kelangkaan Bahan Baku Daun Kiray

Sebelumnya, bahan baku dari pohon kiray rumbia di wilayah Lebak cukup melimpah dan mampu memenuhi kebutuhan sekitar 30 perajin yang telah menjalankan usaha ini secara turun-temurun. Namun, situasi kini telah berubah drastis akibat pesatnya pembangunan di daerah tersebut.

Pembangunan permukiman masyarakat, perkantoran, hingga proyek infrastruktur besar seperti Jalan Tol Serang-Panimbang, menyebabkan banyak pohon kiray ditebang. Hal ini secara langsung mengurangi ketersediaan bahan baku utama bagi para perajin atap rumbia.

Akibatnya, perajin atap rumbia di Lebak kini kesulitan mendapatkan daun kiray di wilayah mereka sendiri. Mereka terpaksa mencari dan mendapatkan daun kiray rumbia dari sejumlah daerah lain, termasuk dari luar Kabupaten Lebak seperti Serang, untuk menjaga kelangsungan produksi.

Dukungan Pemerintah Daerah untuk UMKM

Pemerintah Kabupaten Lebak menyadari pentingnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk kerajinan atap rumbia, bagi perekonomian lokal. Plt Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Imam Suangsa, menyatakan bahwa saat ini terdapat sekitar 117.269 unit UMKM di daerah tersebut, meliputi berbagai bidang usaha.

Imam Suangsa menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendorong usaha kerajinan atap rumbia agar dapat terus tumbuh dan berkembang. Dukungan ini diharapkan dapat memperkuat ekonomi masyarakat secara keseluruhan.

Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak berupaya mendukung para pelaku UMKM, termasuk perajin atap rumbia, melalui berbagai program. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa usaha-usaha tradisional ini tetap produktif dan mampu berkontribusi pada kesejahteraan warga Lebak.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi