Penjualan Kuku Bima turun, laba Sido Muncul anjlok Rp 20 miliar
Merdeka.com - Konsumsi masyarakat terhadap minuman tradisional berupa jamu nampaknya terus mengalami penurunan beberapa waktu belakangan. Hal tersebut terlihat dari penurunan penjualan sejumlah perusahaan industri jamu, bahkan hal tersebut juga terjadi pada PT Nyonya Meneer yang mengalami pailit.
Tidak hanya PT Nyonya Meneer, penurunan pendapatan dari industri jamu juga dialami oleh PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Perusahaan yang berdiri sejak 1970 tersebut, mencatat penurunan penjualan selama semester I-2017 sebesar 6,8 persen menjadi Rp 1,2 triliun dari Rp 1,29 triliun pada periode yang sama tahun 2016.
Kondisi keuangan perseroaan juga mengalami penurunan laba operasi sebesar 8,3 persen dengan penurunan marjin operasi menjadi 24,6 persen dari sebelumnya 25 persen pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih Perseroan tercatat mengalami penurunan sebesar 7,6 persen, menjadi Rp 245 miliar dari sebelumnya Rp 265 miliar di 2016.
Direktur Keuangan Venancia Sri Indrijati mengatakan merosotnya penjualan tersebut disebabkan oleh penurunan tren penjualan minuman penambah stamina (energy drink). Penurunan minuman energy drink tahun ini sebesar 27 persen. Produk andalan minuman energi milik Sido Muncul adalah Kuku Bima.
"Terkait penurunan sales kita, khusus Sido Muncul memang penurunan di segmen minuman khususnya di energy drink. Karena dilihat dari industri energi drink memang mengalami penurunan. Itu sekitar 27 persen," ujar Venancia di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (9/8).
Venancia mengatakan penurunan penjualan energy drink pada semester satu mengakibatkan menurunnya pendapatan keseluruhan perusahaan. Untuk itu, pihaknya akan mengevaluasi strategi baru untuk mendongkrak kembali kinerja keuangan perusahaan.
"Penurunan minuman yang cukup tajam secara keseluruhan revenue kita jadi turun. Kita juga lagi tentukan strategi apa yang akan kita lakukan di semester ke dua nanti," jelasnya.
"Dengan adanya penurunan semester satu kami sedang susun kembali apakah perlu revisi (proyeksi tahun ini) atau tidak belum bisa ditentukan strategi kita. Masih dalam pembahasan mengejar ketertinggalan kita," tambahnya.
Untuk mengejar kerugian pada semester I tahun ini, perusahaan merencanakan akan memproduksi obat herbal. Saat ini, perusahaan telah menyiapkan mesin baru untuk memproduksi obat tersebut.
"Kita lagi lakukan pengembangan khusus obat jadi obat herbal bukan minuman karena minuman ini rasanya trennya turun. Kami sudah mulai siapkan mesin baru untuk buat obat herbal. Kan banyak ya untuk kolesterol diabetes dan lain lain, itu yang kami siapkan," pungkasnya.
(mdk/sau)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya