Pemerintah Provinsi Banten kembali menunjukkan komitmennya dalam memajukan sektor pertanian daerah. Sebanyak 21 petani milenial terpilih diberangkatkan untuk mengikuti program magang intensif di Jepang. Program ini bertujuan untuk membekali mereka dengan inovasi dan teknologi pertanian modern yang mutakhir.
Gubernur Banten, Andra Soni, menyatakan bahwa jumlah peserta tahun ini merupakan yang terbanyak sepanjang sejarah program. Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 1984, inisiatif ini terus berupaya menciptakan regenerasi petani. Diharapkan para peserta dapat membawa perubahan signifikan bagi pertanian Banten sekembalinya nanti.
Para petani muda ini akan menjalani masa magang selama satu hingga dua tahun di Negeri Sakura. Mereka telah melalui seleksi ketat dan diklat persiapan selama 50 hari. Pemberangkatan dijadwalkan pada tanggal 13 April mendatang, siap untuk menyerap ilmu dan pengalaman berharga.
Advertisement
Advertisement
Mendorong Inovasi dan Regenerasi Petani Banten
Gubernur Banten, Andra Soni, mengungkapkan harapannya agar para peserta magang dapat memajukan sektor pertanian di Banten. Mereka diharapkan membawa pulang berbagai inovasi dan pengalaman berharga yang didapatkan selama di Jepang. Provinsi Banten masih memiliki banyak lahan tidur yang potensial untuk dikembangkan oleh para petani muda ini.
Andra Soni juga menyoroti posisi strategis Banten sebagai penyuplai kebutuhan pangan utama bagi wilayah DKI Jakarta. Oleh karena itu, regenerasi petani yang melek teknologi menjadi kunci penting. Hal ini bertujuan agar sektor pertanian daerah dapat menjadi lebih kompetitif dan menarik bagi generasi muda.
Sektor pertanian sebenarnya sangat menjanjikan, terutama untuk memenuhi kebutuhan ribuan satuan pelayanan pemenuhan gizi yang sudah beroperasi di Banten. Pemprov Banten berkomitmen memastikan akses air dan infrastruktur pertanian dalam kondisi baik. Dukungan ini esensial untuk menopang keberlanjutan dan kemajuan sektor pangan.
Advertisement
Advertisement
Proses Seleksi Ketat dan Persiapan Matang
Plt Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, M Nasir, menjelaskan bahwa 21 peserta yang diberangkatkan merupakan hasil seleksi ketat. Mereka terpilih dari total 48 pendaftar yang memiliki minat tinggi di bidang pertanian. Proses seleksi ini menjamin bahwa hanya kandidat terbaik yang mendapatkan kesempatan emas ini.
Sebelum keberangkatan, para peserta telah menjalani program diklat intensif selama 50 hari. Pelatihan ini dirancang untuk membekali mereka dengan adaptasi budaya dan teknis yang diperlukan. Kesiapan ini sangat penting agar mereka dapat berintegrasi dengan baik di lingkungan pertanian Jepang.
Nasir menambahkan bahwa Jepang diakui sebagai barometer teknologi pertanian dunia. Selama 11 hingga 26 bulan di sana, para peserta akan tinggal di perkampungan dan menyatu dengan petani lokal. Mereka akan belajar langsung baik di sektor tanaman pangan maupun peternakan, mendapatkan pengalaman praktis yang tak ternilai.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Petani Milenial untuk Pertanian Modern
Salah seorang peserta asal Kabupaten Lebak, Eva Luthfiah, menyatakan komitmennya yang kuat. Ia bertekad untuk mengubah wajah pertanian di daerah asalnya setelah menyelesaikan program magang. Semangat ini mencerminkan harapan besar yang diemban oleh para petani milenial.
Eva menegaskan bahwa sektor pertanian saat ini sudah semakin modern dan tidak lagi dipandang sebelah mata. Pandangan ini menunjukkan pergeseran paradigma di kalangan generasi muda terhadap profesi petani. Mereka melihat potensi besar dalam pertanian yang didukung teknologi dan inovasi.
Dengan bekal ilmu dan pengalaman dari Jepang, para petani milenial ini diharapkan menjadi agen perubahan. Mereka akan membawa pulang praktik terbaik dan teknologi canggih untuk diterapkan di Banten. Hal ini sejalan dengan visi Pemprov Banten untuk menciptakan pertanian yang lebih maju dan berkelanjutan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews