Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso membeberkan, kondisi terbaru mengenai pasar modal domestik. Dilaporkan, investor retail di pasar saham tumbuh pesat. Hal ini juga memicu calon investor lain untuk segera menanamkan modalnya di pasar saham.
"Namun demikian, perkembangan tersebut agar diimbangi dengan meningkatnya pemahaman yang memadai mengenai investasi, tidak sekadar mengikuti tren dan sumber dana bukan berasal dari pinjaman," ujar Wimboh dalam dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) secara daring, Senin (1/2).
Wimboh melanjutkan, mengantisipasi perkembangan tersebut, OJK bersama self regulatory organizations (SROs) dan pelaku pasar modal terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. "Hal ini dilakukan agar masyarakat lebih rasional dalam menentukan pilihan investasi," katanya.
Advertisement
Sebagai informasi, pasar saham rebound di atas level 6.000 di akhir 2020 dan di awal Januari, sempat menyentuh level 6.435 (14 Januari). Namun akhir Januari 2021 ditutup melemah di level 5.862,35 atau turun 1,95 persen year to date akibat rilis data ekonomi global.
Jumlah total investor di pasar modal mencapai 3,88 juta investor atau naik 56 persen year on year dan terus bertambah menjadi 4 juta investor hingga 15 Januari 2021 dengan frekuensi transaksi yang mengalami tren kenaikan.
Pasar SBN (Surat Berharga Negara) selama tahun 2020 mengalami penguatan dengan yield turun 105 bps. Namun penguatan yield UST di awal 2021 mendorong pelemahan pasar SBN sehingga yield SBN perlahan naik.
Sentimen positif terkait vaksin di awal 2021 menggiring aliran masuk dana investor non-residen sebesar Rp 22,41 triliun di pasar modal. Tercatat 53 emiten baru juga melantai di bursa di 2020 dan merupakan angka tertinggi di ASEAN.
Reporter: Athika Rahma
Sumber: Liputan6