Milenial Didorong Mulai Investasi untuk Pembangunan Berkelanjutan

Selasa, 24 Mei 2022 18:07 Reporter : Siti Nur Azzura
Milenial Didorong Mulai Investasi untuk Pembangunan Berkelanjutan investasi. shutterstock

Merdeka.com - Peningkatan investasi diyakini mampu mendongkrak pembangunan ekonomi suatu bangsa dan mempercepat pencapaian agenda SDG atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Untuk itu, generasi milenial didorong agar dapat memulai investasi dengan cara yang bijak dan cerdas.

Head of Communication United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia Tomi Soetjipto mengatakan, tren investasi saat ini telah mencapai perubahan mendasar karena semua orang dapat memilih dan memutuskan instrumen mereka dengan cara yang paling nyaman. Melalui berbagai aplikasi investasi misalnya, semua orang dapat menginvestasikan uang mereka dalam hitungan detik.

Namun demikian, perubahan tersebut tidak dibarengi dengan literasi keuangan tentang bagaimana memilih dengan bijak berdasarkan kredibilitas instrumen keuangan. Selain itu, masih banyak masyarakat belum tahu investasi yang aman serta bermanfaat.

Menurutnya, pemerintah telah mengeluarkan berbagai instrumen keuangan yang melibatkan pembiayaan oleh publik, seperti SDGs Bond hingga Green Sukuk. Instrumen keuangan tersebut lebih aman dan bermanfaat karena dapat berkontribusi untuk negara, yakni digunakan untuk pembangunan berkelanjutan atau proyek-proyek yang ramah lingkungan, sesuai dengan standar internasional.

"Banyak sekali uang anak muda hilang dengan mudahnya melalui skema investasi yang tidak aman. Sayang sekali, karena kemudahan investasi itu juga mudah juga hilangnya. Jadi, kita bicara bagaimana menarik investasi anak muda itu ke proyek-proyek pembangunan Indonesia," kata Tomi di Jakarta, Selasa (24/5).

National Project Manager, Assist UNDP Indonesia, Nila Murti mengatakan, pihaknya sejak lama telah bekerja sama dengan pemerintah Indonesia terkait bagaimana mendorong generasi muda untuk dapat berinvestasi dengan cara bijak dan cerdas. Salah satunya dengan mendukung Kementerian Keuangan menerbitkan Green Sukuk, yang pada 2018 dikeluarkan oleh pemerintah.

Dukungan UNDP sejak penerbitan SDGs Bond maupun Green Sukuk dikategorikan menjadi tiga pilar. Pertama teknikal sistem, yakni penyusunan framework, pemilihan proyek-proyek yang sesuai dengan kriteria dalam framework, hingga memastikan proyek-proyek yang dibiayai memenuhi kriteria.

Kedua, capacity building, yakni sebagai proses meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan terkait dengan green sukuk maupun lainnya. "Serta ketiga, campaign dan advokasi. Kita melakukan kampanye terkait risiko dan kesadaran mengenai instrumen pembiayaan kepada generasi muda," ujar dia.

Kemudian, Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan Deni Ridwan mengungkapan, sejak penerbitan green sukuk atau sukuk hijau mulai 2018 sampai 2020, berhasil mengurangi emisi 10,3 juta ton setara karbon dioksida. Menurutnya, investor milenial yang mulai berinvestasi pada Surat Berharga Negara (SBN) ini dapat membantu perekonomian agar pembiayaan pembangunan juga dapat lebih mandiri.

"Kalau teman-teman banyak yang bertanya kenapa pemerintah utang terus, karena kita harapkan adanya semakin besar kontribusi dari investor domestik. Kenapa kita sasar generasi muda? Karena harapannya milenial dari yang masih SMA atau kuliah, atau kerja, setelah mengetahui manfaat investasi, harapannya ke depan Indonesia bisa mendapat sumber pembiayaan jangka panjang dari domestik, tanpa tergantung dari investor asing. Jadi kita punya kemandirian dari sisi pembangunan," ujarnya.

Deni menuturkan, catatan pihaknya menunjukkan bahwa ada 40 persen generasi milenial telah menjadi investor retail domestik di Indonesia. Bahkan, ada sekitar 1 persen dari generasi Z, yakni siswa SMA, juga sudah mulai untuk berinvestasi.

"Kondisi sektor keuangan kita saat ini didominasi oleh perbankan, yang mana pengelolaan dananya jangka pendek. Sementara kita untuk pembangunan itu perlu dibiayai oleh sumber-sumber jangka panjang. Misal pembangunan jembatan, airport dan sarana lainnya, itu tentu membutuhkan waktu jangka panjang. Untuk itu pemerintah dalam pembiayaan ini tidak hanya kejar jumlah saja, tapi juga ingin mencoba kembangkan pasar keuangan," ucapnya.

Baca juga:
Menko Airlangga Ajak AMTD Group Investasi di Sektor Keuangan Indonesia
Per 20 Mei 2022, Realisasi Pembiayaan Investasi Capai Rp17 Triliun
Luhut Sebut Investasi Tesla ke RI Masih Butuh Waktu dan Proses
Sri Mulyani Bertemu Menkeu Singapura, Bahas Potensi Investasi di RI
Pemprov Sulut Ajak Inerco dan Rotterdam Port Investasi di Pelabuhan Bitung
Luhut Bantah Pembangunan Ibu Kota Baru Minim Pendanaan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini