Meski tak besar, penduduk miskin RI tetap menabung untuk investasi dan pendidikan
Merdeka.com - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Kecuk Suhariyanto, mengatakan penduduk miskin juga memiliki perilaku menabung. Menabung, tidak diukur dari berapa besar jumlah uang yang disisihkan tetapi lebih kepada kemampuan untuk menyimpan sebagian dari dana yang dimiliki.
"Mereka selalu mencari kesempatan untuk menyisihkan sebagian uangnya, seberapa kecil pun. Perilaku menabung jangan diukur dari besar kecilnya yang ditabung, tetapi bahwa perilaku menabung pun juga ada pada penduduk miskin," ujar Kecuk di Kampus STIS, Jakarta, Kamis (25/10).
Kecuk mengatakan, pernyataan ini bukan tanpa dasar. Beberapa waktu lalu, pihaknya melalui penelitian mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) membuktikan bahwa sebagian besar masyarakat miskin tetap menyisihkan dananya untuk masa depan baik untuk pendidikan maupun investasi.
"Statement ini didasarkan pada penelitian. Sehingga pertanyaan kita kemudian bisa berkembang, apa yang membuat mereka mempunyai motivasi untuk menabung? Jawabannya sama dengan jawaban saat kita menabung. Penduduk miskin juga perlu memenuhi kebutuhan siklus hidupnya," jelasnya.
Kecuk menjelaskan, penduduk miskin menabung dengan menyimpan dana melalui sisa belanja dan dari penghasilan yang diperoleh sehari-hari. Selain itu, kemampuan ini juga didasari adanya perilaku meminjamkan barang yang dimiliki kepada orang lain.
"Bagaimana mereka bisa menabung? Tentu dari menyimpan uang belanja yang ada, sekecil apapun. Bisa menyisihkan dari gaji, bisa melakukan yang namanya reciprocal lending atau meminjamkan sejumlah kecil, entah itu uang, barang, atau lainnya. Ini yang terjadi dan sudah dikonfirmasi dari berbagai penelitian," jelasnya.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya