Menko Airlangga Soal Ekonomi di Masa Pandemi: Kita Melihat Ada Cahaya di Ujung

Jumat, 3 Juli 2020 21:22 Reporter : Dwi Aditya Putra
Menko Airlangga Soal Ekonomi di Masa Pandemi: Kita Melihat Ada Cahaya di Ujung Airlangga Hartarto. ©2020 Zaki/Humas Ekon

Merdeka.com - Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan ketidakpastian ekonomi global akibat pandemi Covid-19 mulai menurun. Hal itu ditandai seiring pasar keuangan di Juni 2020 perlahan bergerak naik.

Dia mengatakan, dari segi kinerja pasar uang dan saham, relatif mengalami penguatan atau masuk di zona Rp14.400 dan IHSG hampir menyentuh 5.000. Peningkatan itu artinya sektor keuangan dan saham mempunyai outlook positif dari pelaku pasar.

"Sektor-sektor yang turunnya dalam sudah ada kenaikan ini juga sudah mendorong bahwa kita melihat ada cahaya di ujung," kata dia dalam diskusi virtual di Jakarta, Jumat (3/7).

Di samping itu, capital outflow sudah perlahan mulai menurun. Sementara, dana asing yang masuk atau capital inflow kembali mengalir masuk ke Indonesia baik dalam bentuk obligasi maupun bentuk saham.

"Dan pemerintah kemarin mengeluarkan Sukuk maupun Green Bond yang dua-duanya disambut positif seluruhnya," kata dia.

Tak sampai di situ, indeks manufaktur Indonesia atau PMI juga sudah dalam posisi baik di 39,1. Meskipun angka tersebut dianggap masih pada level kontraksi atau kurang dari 50.

"Kalau kita lihat dari PMI kita sudah ada lompatan dengan normal yang kemarin sudah turun ke level 28 sekarang sudah naik ke 39 walaupun belum level di atas 50," tandas dia.

1 dari 1 halaman

Virus Corona Timbulkan Ancaman Inflasi dan Banjir Impor

timbulkan ancaman inflasi dan banjir impor

Rektor Universitas Indonesia, Ari Kuncoro, menyebut salah satu cara untuk memulihkan perekonomian di Tanah Air yakni melalui penguatan dari sisi rantai pasok. Sebab, pandemi Covid-19, menurutnya berdampak pada pemutusan permintaan dan penawaran.

"Perekonomian itu sebenarnya adalah kartu domino dari rantai pasokan jadi tidak bisa dengan membangkitkan sebagian jadi harus semuanya dibangkitkan inilah yang menimbulkan komplikasi. Kenapa kemudian timbul semacam prediksi kira-kira pemulihannya akan lebih lama 2021," kata dia dalam diskusi di Jakarta, Jumat (3/7).

Dia mengatakan yang sering dilupakan bahwa perekonomian itu sebenernya pertemuan antara produksi dan permintaan. Di mana, keduanya tengah hancur akibat dampak Covid-19 ini. "Ini sebenarnya adalah suatu peringatan bagi kita kalau rantai pasokan tidak dijaga," kata dia.

Dia menambahkan, jika rantai pasok tidak terjaga, maka akan ada dua kemungkinan buruk dirasakan oleh suatu negara termasuk Indonesia. Pertama yakni ada permintaan namun barang tidak ada, maka akan menyebabkan inflasi naik. Kedua bisa menjaga inflasi, namun harus melakukan impor.

"Inilah yang nanti harus kita waspadai di akhir-akhir tahun 2020 jadi ini memerlukan suatu kebijakan untuk memperbaiki kerusakan pada rantai pasokan," kata dia.

[bim]

Baca juga:
Menko Airlangga Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2020 Minus 3,1 Persen
Virus Corona Timbulkan Ancaman Inflasi dan Banjir Impor
Hasil Tes Usap 45 Tenaga Medis di Madani Pekanbaru Negatif Covid-19
Dinkes Jateng Ungkap ASN Pemprov Terpapar Covid-19 dari Klaster Panti Jompo Rembang
Surabaya Jadi Zona Hitam, Pertamina EP Lakukan MWT Virtual di Poleng Field
IHSG Dinilai Belum Pulih Meski Sempat Sentuh Level 5.000
Tips Jitu Investasi Saham di Masa Pandemi Ala Danareksa

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini