Mengintip dampak kesalahan tata kelola gula rafinasi RI

Senin, 19 Juni 2017 09:58 Reporter : Saugy Riyandi
Mengintip dampak kesalahan tata kelola gula rafinasi RI Polisi segel gudang gula rafinasi di Makassar. ©2017 Merdeka.com/Salviah Ika Padmasari

Merdeka.com - Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menjelaskan pemerintah harus mengubah paradigma terkait pengelolaan gula rafinasi. Jika salah kelola, katanya, akan menjadi faktor utama gagalnya target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini yang dipatok 5,1 persen.

Menurutnya, sektor makanan dan minuman yang menjadi merupakan konsumen utama gula rafinasi sepanjang 2011-2015 adalah industri yang tumbuh sekitar 8,5 persen per tahunnya. Persoalannya, pasokan gula dalam negeri sangat kecil karena persoalan ketersediaan lahan tebu.

"Ketimbang terjebak dalam ketergantungan impor yang berpotensi memboroskan devisa dan terbukti bocor dimana-mana karena selalu ada jumlah illegal yang ikut bersama ijin impor. Maka gula rafinasi adalah solusi penting untuk menutup kebutuhan industri makanan dan minuman," ujar Faisal Basri dalam keterangannya, Senin (19/6).

Dia menegaskan tingginya harga justru terjadi karena adanya monopoli dalam kebijakan gula rafinasi. Sebab, gula rafinasi hanya boleh diimpor oleh importir teedaftar, sehingga jatah gula rafinasi dinikmati industri makanan dan minuman skala besar.

"Sektor Industri Kecil Menengah tidak kebagian dan harus bertahan dengan gula harga yang semakin tinggi. Itu alasan mengapa akhirnya banyak Industri makanan dan minuman dalam negeri akhirnya memindahkan pabriknya ke Vietnam, Thailand dan Laos," katanya.

Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas ini menambahkan gula rafinasi aman unutk dikonsumsi rumah tangga. Kesalahan tata kelola gula rafinasi ini justru akan mengancam ekonomi Indonesia, salah satunya keberlangsungan industri makanan dan minuman.

"Sektor industri makanan dan minuman adalah termasuk yang paling tinggi menyumbang nilai ekspor. Jika terjadi hambatan pada pasokan gula kepada industri makanan dan minuman, maka sektor ini akan terpuruk. Sementara, kebocoran yang timbul dari penerbitan kuota impor gula sangat tinggi, sehingga pasar kebanjiran pasokan gula impor ilegal, ini yang benar-benar akan mennyengsarakan petani tebu dan industri gula. Pengangguran yang ditimbulkan dari gulung tikarnya industri pengolahan gula rafinasi juga adalah persoalan tersendiri yang harus dipikirkan oleh pemerintah," pungkasnya.

Satgas pangan Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) melakukan penggerebekan terhadap sebuah gudang di Benteng Baru, Nomor 8, Jalan Ir Sutami, Makassar pada 20 Mei lalu. Dari hasil penggerebekan itu, petugas menemukan gula rafinasi sebanyak 107.360 sak atau sekitar 5.300 ton.

Belakangan, gula rafinasi ini sedang marak jadi perbincangan, khususnya bagi warga Makassar. Bahkan, gula jenis ini disebut berbahaya untuk dikonsumsi masyarakat. [sau]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini