Menengok Batik Seng dengan Pewarna dari Limbah Kopi

Kamis, 24 Oktober 2019 10:06 Reporter : Siti Nur Azzura
Menengok Batik Seng dengan Pewarna dari Limbah Kopi Batik Seng. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Batik lokal Malangan terus menunjukkan eksistensinya. Seperti batik lokal asli kampung Desa Sengguruh Kepanjen yang kini berproses menjadi banyak sentra pengrajin batik. Batik lokal ini terlahir sejak 2014 silam, dan lebih dikenal dengan Batik Seng.

Awalnya, kerajinan membatik di tempat ini hanya keterampilan waktu luang para ibu warga sekitar, sembari menunggu anaknya sekolah. UMKM yang berlokasi di Jalan Gondomono, Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang ini akan berinovasi dalam produksi batik dengan pewarna alam berbahan dasar limbah kopi.

Pengelola Griya Batik Seng, Evi Wahyu Astutik mengaku sudah punya relasi dengan berbagai warung kopi di Kepanjen untuk pemasokan bahan baku usaha batik. Cara mengolah menjadi tinta sama dengan bahan pewarna alam lainya, yakni dengan cars ekstraksi selama beberapa hari hingga akhirnya warna alami dari bahan baku tersebut tercipta.

Melalui pembinaan dari anak perusahaan PLN, Pembangkit Jawa Bali (PJB), sumber daya manusia (SDM) yang ada di kawasan tersebut agar lebih produktif dan memiliki keterampilan khususnya dalam membatik.

©2019 Merdeka.com

"Selain berfokus pada pengembangan ilmu SDM, bantuan berupa fisik pun diberikan seperti peralatan membatik, pembangunan sanggar, pembuatan IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah) dan tentunya penambahan galeri batik. Sehingga lebih ramah lingkungan," kata asisten humas dan CSR PT PJB Unit Pembangkitan Brantas, Citra melalui keterangan resminya, Kamis (24/10).

Batik Seng Sengguruh memang beda daripada batik pada umumnya. Di tengah pesatnya modernisasi, Batik Seng masih mempertahankan cara produksi dengan menggunakan pewarna alami. Dalam waktu dekat Batik Seng akan berubah menjadi kampung budaya.

Pembina Batik Seng, Wahyudi Siswanto menerangkan, kini pihaknya sedang menyiapkan masyarakat setempat guna mengangkat konsep kampung budaya. Wahyudi dalam UKM Batik Sengguruh ini juga berperan dalam menciptakan motif batik.

"Di kampung budaya ini nanti keinginan kami akan menjadi pusat konservasi batik, didalamnya ada edukasi mulai dari proses, museum, hingga pusat oleh-oleh dan cinderamata khas dari Sengguruh," tutur Wahyudi.

Guru Besar Universitas Negeri Malang itu menuturkan, ide melahirkan kampung budaya tersebut sudah direncanakannya sejak lima tahun yang lalu. Dia berharap batik pewarna alam bisa terus eksis untuk genarasi mendatang. [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini