Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian telah menyalurkan sejumlah alat pembersih lumpur dan perlengkapan penunjang dari Presiden Prabowo Subianto kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Penyaluran ini bertujuan utama untuk mempercepat proses pemulihan pascabencana banjir dan lumpur yang melanda wilayah tersebut. Langkah ini diharapkan dapat segera mengembalikan aktivitas masyarakat serta fungsi layanan publik di daerah setempat yang terdampak.
Penyerahan bantuan ini berlangsung pada Jumat, 23 Januari, di Aceh Tamiang, Aceh, sebagai respons cepat terhadap kondisi darurat. Bantuan yang diserahkan meliputi sembilan unit skid loader berukuran mini, dirancang khusus untuk menjangkau area sempit seperti gang dan rumah warga. Selain itu, diserahkan pula 5.000 pasang sepatu bot, 3.000 gerobak dorong, 1.000 sekop, serta 1.000 cangkul.
Mendagri Tito Karnavian secara simbolis menyerahkan seluruh peralatan tersebut kepada pemerintah daerah Aceh Tamiang, dengan harapan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Peralatan ini akan digunakan untuk membersihkan sisa-sisa lumpur di rumah-rumah penduduk hingga fasilitas umum. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah pusat untuk meringankan beban masyarakat dan mempercepat normalisasi kehidupan di Aceh Tamiang.
Advertisement
Advertisement
Mendagri Tito Karnavian menjelaskan bahwa sembilan unit skid loader yang disalurkan merupakan bantuan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Alat berat mini ini dipilih secara spesifik karena kemampuannya untuk beroperasi di area terbatas dan padat penduduk. Penggunaan skid loader kecil ini penting untuk menghindari kerusakan lebih lanjut pada bangunan saat proses pembersihan lumpur.
Selain alat berat, bantuan juga mencakup perlengkapan manual yang sangat krusial dalam operasi pembersihan. Ribuan sepatu bot, gerobak dorong, sekop, dan cangkul diserahkan untuk mendukung kerja keras warga dan relawan. Tito Karnavian menggambarkan perlengkapan ini sebagai 'senjata perang' melawan lumpur yang mengeras, menunjukkan urgensi dan skala tantangan yang dihadapi.
Seluruh perlengkapan ini diserahkan secara simbolis kepada pemerintah daerah Aceh Tamiang, menegaskan peran sentral pemerintah setempat dalam koordinasi dan distribusi bantuan. Harapannya, bantuan ini dapat segera didistribusikan dan digunakan untuk membersihkan rumah warga serta memulihkan fungsi fasilitas layanan publik. Fokus utama adalah mengembalikan kenyamanan dan keamanan bagi penduduk yang terdampak.
Advertisement
Advertisement
Selain Aceh Tamiang, Mendagri juga menyatakan bahwa pemerintah pusat berupaya memberikan dukungan serupa bagi daerah lain yang terdampak lumpur. Wilayah seperti Aceh Timur, Aceh Utara, Kota Bireuen, dan Pidie Jaya juga menjadi perhatian untuk percepatan pemulihan. Dukungan ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh daerah terdampak dapat segera bangkit dan mengembalikan aktivitas masyarakat.
Kondisi di beberapa wilayah lain seperti Gayo Lues, Bener Meriah, dan Aceh Tengah dilaporkan relatif lebih aman dari dampak banjir dan lumpur. Namun, Tito Karnavian menyoroti perlunya penanganan infrastruktur khusus untuk jalan dan jembatan yang terdampak longsor. Pemulihan infrastruktur ini krusial untuk mengembalikan konektivitas dan mobilitas warga di daerah tersebut.
Mendagri menegaskan bahwa Aceh Tamiang saat ini menjadi satu-satunya daerah yang pemerintahannya belum sepenuhnya normal akibat bencana banjir dan lumpur. Sementara itu, Bireuen dan Kota Langsa telah berfungsi baik, serta kabupaten/kota Aceh lainnya berjalan normal. Situasi ini menekankan urgensi Bantuan Pemulihan Aceh Tamiang untuk mempercepat pemulihan layanan publik dan administrasi pemerintahan.
Advertisement
Advertisement
Mendagri Tito Karnavian telah memantau langsung kondisi di berbagai daerah terdampak bencana, termasuk melalui daring dengan kepala daerah di Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Meskipun wilayah-wilayah tersebut juga terdampak, pemerintahannya tetap berjalan lancar dan dinas-dinas beroperasi penuh melayani masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan Aceh Tamiang menjadi prioritas khusus.
Berdasarkan Laporan Pantauan Data dan Penanggulangan Bencana Alam Hidrometeorologi di Posko Terpadu Kabupaten Aceh Tamiang per 22 Januari 2026, pukul 18.00 WIB, dampak bencana sangat signifikan. Bencana banjir dan longsor tersebar di 12 kecamatan dan 209 kampung. Tercatat 101 orang meninggal dunia dan 18 orang luka-luka, menunjukkan skala tragedi yang terjadi.
Data pengungsian juga menunjukkan angka yang besar, dengan 1.435 kepala keluarga (KK) atau 5.901 jiwa mengungsi. Meskipun 73.670 KK dan 290.466 jiwa tidak mengungsi, dampak pada kehidupan sehari-hari sangat terasa. Mendagri berharap Bantuan Pemulihan Aceh Tamiang dari Presiden ini dapat meringankan beban masyarakat. Bantuan ini diharapkan dapat mempercepat proses normalisasi dan mengembalikan Aceh Tamiang ke kondisi semula.
Advertisement
Sumber: AntaraNews