Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mendag Buka-Bukaan Penyebab Harga Minyak Goreng Naik Drastis

Mendag Buka-Bukaan Penyebab Harga Minyak Goreng Naik Drastis Muhammad Lutfi. ©Liputan6.com/Immanuel Antonius

Merdeka.com - Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi buka suara mengenai penyebab harga minyak goreng naik drastis beberapa waktu belakangan. Kenaikan itu merupakan konsekuensi atas meroketnya harga komoditas minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).

"Kalau kita lihat sekarang sebenarnya barang apa yang kita jual? pertama yang paling besar itu adalah produk minyak nabati HS nomor 15 yaitu kelapa sawit," kata Lutfi, Jakarta, Jumat (19/11).

Kenaikan harga CPO, kata Lutfi, membuat ekspor membaik namun juga menekan harga minyak goreng. Terlihat dari nilai ekspor bulan ini yang menyumbang angka cukup besar.

"Kita ini menjual kira-kira USD 27 miliar pada tahun 2020. Pada bulan Oktober ini saja kita menjual USD3,36 miliar," jelasnya.

Kontribusi positif itu berdampak pada produk turunannya, yakni minyak goreng yang mengalami kenaikan harga. Harga kelapa sawit kini dibanderol USD 1.250 dan berpotensi akan naik lagi hingga menyentuh USD 1.500 per ton.

"Akan naik lebih dari USD1.500 pada tahun depan karena panen dari pada kelapa sawit kita ini, panen dari kelapa sawit dari seluruh dunia itu tidak akan terlalu baik," paparnya.

Dalam mengontrol harga minyak goreng, pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng Rp11.000 per liter ketika harga kelapa sawit dikisaran USD 600 per ton. Namun kini harga minyak goreng terancam naik dua kali lipat terkerek harga CPO.

"Begitu harganya dua kali lipat maka harga minyak goreng hari ini lebih dari Rp16.000, terkadang lebih dari Rp16.000 sebagai bagian yang tertinggi. Tetapi ini konsekuensi dari pada market internasional," tandasnya.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP