Masih Minim Pengawasan, Indonesia Belum Siap Terapkan AI
Merdeka.com - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira menyebutkan, Indonesia belum mampu menerapkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), karena belum adanya aturan hukum yang jelas.
"Indonesia belum siap untuk AI khususnya di sektor ekonomi, regulasinya belum jelas," tegasnya di Ballroom Fairmont Hotel, Jakarta, Selasa (11/2).
Dia menjelaskan, penerapan AI harus dengan pengawasan ketat di sektor lembaga keuangan untuk menjaga kerahasiaan nasabah.
"Tentang AI harus dikendalikan, khususnya disektor tunai, perbankan. Karena dia bisa melakukan sesuatu hal yang bisa dikendalikan manusia, harus dikendalikan manusia dari segi privasi, keamanan harus tetap dikontrol," jelasnya.
Sementara itu, Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika Hendri Subiakto mengakui ada dampak negatif dan positif dari penerapan kecerdasan buatan, dan belum adanya peraturan hukum yang jelas.
"Teknologi pasti ada positif dan negatif nya, termasuk AI karena menyangkut data-data, dan belum ada pengaturan pasti penggunaan dan hukumnya," ujarnya.
Bukan Hal Mudah
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMenteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro menyebut bahwa salah satu fitur penting dari revolusi industri 4.0 yakni hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Konsep AI sendiri sudah dilakukan di sejumlah negara-negara maju.
"Negara maju mereka benar-benar berfokus pada AI yang tujuannya adalah untuk menjaga daya saing mereka, baik di dalam sektor manufaktur, maupun sektor jasa," katanya di Jakarta, Rabu (20/11).
Untuk masuk ke sana, memang tidak mudah. Sebab, diakui Bambang perlu menyusun roadmapnya terlebih dahulu. Karena bagaimanapun AI sendiri harus disesuaikan dengan kebutuhan di Indonesia.
"Kalau kebutuhan kita misalnya adalah sektor kesehatan, misalkan, maka AI itu harus diarahkan ke sana. sekarang kita harus identifikasi mana yang jadi prioritas termasuk cyber security dan seperti apa nantinya pengembangan AI Indonesia disertai dengan alatnya, disertai dengan SDM-nya," jelasnya.
Dia menyadari, secara konsep AI sendiri belum terpetakan. Oleh karena itu ke depan pihaknya ingin membuat agar AI ini bisa menjadi salah satu pembahasan strategis nasional.
"Iya tahun 2020 mudah-mudahan kita sudah punya strategi yang jelas," tandasnya.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya