Transformasi ekonomi desa berbasis potensi lokal kian nyata terlihat di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Melalui pemanfaatan kekayaan alam, budaya, serta kearifan lokal, desa ini mampu tumbuh menjadi kawasan yang mandiri dan produktif dengan dukungan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Desa BRILiaN dari PT Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Terletak di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, Desa Tompobulu memiliki karakter geografis yang mendukung pengembangan sektor pertanian sekaligus pariwisata. Mayoritas masyarakat berprofesi sebagai petani, namun kini mulai mengembangkan potensi lain seperti kuliner tradisional hingga sektor wisata yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru.
Salah satu produk unggulan desa adalah saraba daun kelor, minuman tradisional berbahan dasar jahe dan daun kelor yang kini semakin dikenal luas. Produk ini tidak hanya menjadi identitas lokal, tetapi juga berkembang menjadi sumber pendapatan masyarakat melalui penguatan UMKM.
Seiring perkembangan tersebut, Desa Tompobulu juga menorehkan berbagai prestasi, di antaranya menjadi juara nasional Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), meraih penghargaan dalam Lomba Desa Pariwisata Kementerian Desa, hingga masuk nominasi desa terbaik pada ajang Desa BRILiaN.
Kepala Desa Tompobulu Abdul Kadir Hakim menyampaikan bahwa capaian tersebut menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus mengembangkan potensi desa secara berkelanjutan.
“Capaian ini menjadi kebanggaan bagi kami sekaligus dorongan untuk terus mengoptimalkan potensi desa,” ujarnya.
Penguatan ekonomi desa semakin optimal melalui program Desa BRILiaN yang diinisiasi BRI. Kedekatan masyarakat dengan layanan perbankan menjadi faktor penting, mengingat sebagian besar warga merupakan pelaku UMKM sekaligus penerima KUR. Melalui program ini, BRI memberikan pendampingan berkelanjutan mulai dari penguatan kelembagaan desa, digitalisasi layanan keuangan, hingga peningkatan kapasitas usaha masyarakat.
Advertisement
Potensi pariwisata desa juga terus dikembangkan secara terintegrasi. Desa Tompobulu memiliki sejumlah destinasi unggulan, termasuk kawasan di sekitar Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung serta Puncak Pendagang Bulu Sarang yang berada di ketinggian 1.353 mdpl dan menjadi daya tarik wisata alam.
Pertumbuhan sektor pariwisata turut mendorong pengembangan UMKM berbasis kearifan lokal. Produk saraba daun kelor kini telah dipasarkan ke berbagai daerah, sementara usaha gula aren tetap mempertahankan proses produksi tradisional berbasis gotong royong yang menjaga kualitas sekaligus nilai sosial masyarakat.
Peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga menjadi pilar penting dalam menjaga keberlanjutan ekonomi. BUMDes mengembangkan berbagai unit usaha mulai dari layanan Wi-Fi desa, depot air galon, hingga usaha produktif lainnya yang mendukung kebutuhan masyarakat sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Desa.
Advertisement
Seluruh upaya tersebut diperkuat dengan dukungan layanan keuangan inklusif dari BRI, mulai dari penyaluran KUR, penguatan AgenBRILink yang terintegrasi dengan BUMDes, hingga pemanfaatan transaksi digital melalui QRIS dan aplikasi BRImo.
Direktur Mikro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan bahwa Desa BRILiaN merupakan bagian dari komitmen BRI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang inklusif dan berkelanjutan. Program ini mengusung empat pilar utama, yakni penguatan kelembagaan desa, digitalisasi layanan keuangan, pengembangan ekonomi berkelanjutan, serta inovasi desa.
Hingga kini, lebih dari 5.200 desa di seluruh Indonesia telah tergabung dalam program Desa BRILiaN dan terus mendapatkan pendampingan berkelanjutan.
Dengan sinergi antara potensi lokal, penguatan kelembagaan, serta dukungan akses keuangan dari BRI, Desa Tompobulu kini tumbuh sebagai desa wisata yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing, sekaligus menjadi contoh nyata keberhasilan transformasi ekonomi desa di Indonesia.