Mampukah Stasiun Manggarai Ambil Alih Peran Stasiun Gambir?
Merdeka.com - Stasiun Manggarai akan menjadi stasiun tersibuk pada tahun 2021. Sebab, Kementerian Perhubungan berencana mengalihkan kereta jarak jauh ke Stasiun Manggarai dari sebelumnya di Stasiun Gambir.
Nantinya, Stasiun Manggarai akan menjadi stasiun sentral dan Stasiun Gambir akan menjadi stasiun kereta listrik atau Commuter Line (KRL). Namun rencana tersebut mendapat kritikan pedas dari berbagai pihak, karena akan menambah kepadatan Stasiun Manggarai.
Dengan kepadatan yang terjadi di Stasiun Manggarai, mampukah Stasiun Manggarai mengambil ahli peran Stasiun Gambir? Berikut ulasannya:
Perlu Dikaji Ulang
Pemindahan fungsi naik turunnya penumpang Kereta Api (KA) jarak jauh dari Stasiun Gambir ke Stasiun Manggarai perlu dikaji ulang. Hal tersebut diungkapkan oleh Pengamat Transportasi Institut Studi Transportasi, Deddy Herlambang. Deddy menjelaskan, pengkajian terutama dari sisi akses, moda transportasi pendukung, serta aspek sosial di sekitar Stasiun Manggarai.
"Memang telah ada studi dari JICA tahun 1985 dan 1991 untuk menjadikan Stasiun Manggarai sebagai stasiun terpadu atau hub besar berbasis rel. Namun karena eksekusi terlalu lama maka perubahan mind set transportasi tidak diprediksikan pada tahun studi JICA itu," ujar Deddy dikutip dari Antara, Rabu (9/10).
Dia menuturkan saat itu tidak diprediksikan lonjakan perubahan kepadatan kendaraan pribadi. Saat itu pengguna kendaraan umum di DKI masih sekitar 50-60 persen, kini pengguna kendaraan umum sebesar 23 persen–25 persen.
Sementara itu, jaringan jalan dari dulu hingga sekarang juga tidak ada perubahan yang signifikan karena pertumbuhan jalan hanya 0,01 persen tahun bila dibandingkan kendaraan baru 12-16 persen per tahun.
Dia melanjutkan, saat ini juga tidak diprediksikan akan booming transportasi online (private bukan mass transport). Akibatnya akses menuju ke Stasiun Manggarai tidak berbentuk dan tidak tertata seperti sekarang ini.
"Susah payah terjebak kemacetan bila kita memaksa menggunakan kendaraan menuju Manggarai. Bisa kita katakan bahwa desain Stasiun Manggarai baru saat ini megah dan indah, namun apabila tidak didukung oleh sistem aksesbilitas menuju stasiun, nampaknya sulit seperti harapan," katanya.
Dinilai Tidak Tepat
Rencana Stasiun Manggarai untuk melayani kereta jarak jauh mendapat kritikan dari mantan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan. Jonan menyebutkan, kereta jarak jauh kurang cocok dipusatkan di Stasiun Manggarai sebab masih terlalu padat. Saat ini Stasiun Manggarai melayani KRL dan kereta bandara.
"Sebagai mantan Menhub dan mantan Dirut KAI. Gambir harus tetap melayani Kereta Api jarak jauh seperti Tokyo Central Station dan banyak central station lain di banyak kota besar di dunia," kata Jonan dalam komentarnya di Instagram.
Manggarai Ideal Jadi Stasiun Kereta Sentral
Mendapat banyak kritikan dari berbagai pihak, Kementerian Perhubungan, melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan menilai Stasiun Kereta Api (KA) Manggarai, Jakarta, ideal sebagai stasiun sentral karena Gambir sudah tidak bisa dikembangkan lagi.
"Kita tetap sesuai dengan perencanaan karena memang sudah lama, sudah sangat ideal di situ (Manggarai), karena kalau Stasiun Gambir tidak bisa dikembangkan lagi, apalagi stasiun lain," kata Kasubag Humas Ditjen Perkeretaapian Supandi dikutip dari Antara, Rabu (9/10).
Supandi menjelaskan, Stasiun Manggarai memang dirancang untuk stasiun ultimate yang perencanaannya sudah dilakukan sejak lama.
"Kita tidak tiba-tiba mengubah rencana tersebut, kita juga sudah studi. Manggarai jadi stasiun sentral dan Gambir akan kembali seperti semula untuk commuter line," katanya.
Kawasan Manggarai akan Ditata
Kasubag Humas Ditjen Perkeretaapian Supandi mengatakan dengan pemindahan rute jarak jauh ke Stasiun Manggarai, wilayah sekitar juga tentunya akan ditata sedemikian rupa dalam kurun waktu hingga dua tahun mendatang sekaligus menunggu kesiapan jalur dwiganda.
"Kita kan masih ada waktu dua tahun. Kalau rencananya akhir 2021 itu hanya pembangunan stasiun Manggarai selesai. Tapi sepanjang itu kita kan akan melakukan penataan, khususnya menunggu kesiapan jalur dwiganda. Kalau ini enggak selesai juga kan enggak bisa dipindah dulu," katanya.
Terkait lahan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan PT Kereta Api Indonesia agar bisa diselesaikan untuk kemudahan akses penumpang.
"Koordinasi kita lakukan terus, terkait penertiban, dengan RT/RW kelurahan dan kecamatan terus dilakukan penertiban berbasis dialog dan musyawarah," katanya.
(mdk/dan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya