Lebih dekat dengan PLTA Lamajan peninggalan Belanda di Bandung
Merdeka.com - Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Lamajan dibangun masa penjajahan Belanda pada tahun 1924, dan mulai beroperasi tahun 1925. Kurang lebih sudah 93 tahun PLTA Lamajan mengaliri listrik untuk warga Bandung Selatan dan sekitarnya.
Merdeka.com bersama media lainnya berkesempatan untuk melihat lebih dekat PLTA Lamajan. Untuk mencapai tempat di mana pembangkit dan turbin berada, rombongan harus turun menggunakan lori sederhana yang juga peninggalan Belanda.
Petugas Operator PLTA Lamajan, Bangkit menjelaskan, selama ini PLTA Lamajan hanya sekali mengalami renovasi yakni pada tahun 1993, dan juga lori yang digunakan sampai saat ini belum mengalami kerusakan.

"Sekali tahun 1993 (diperbaiki) itu untuk penambahan kapasitas dulunya cuma 5 MW sekarang 16,5 MW per unit," kata Bangkit di PLTA Lamajan yang berada di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat Kamis (5/5).
Dalam pengoperasian PLTA, terdapat dua buah pipa pesat sebagai penghubung antara Kolam Tando Harian (KTH) yang menampung air dari hulu dan power house yang berisikan tiga buah turbin dengan daya terpasang 7,25 MW.
"Air dari kolam tandu harian, airnya dari Plengan, punya kolam baru dikasih ke kolam Lamajan dan masuk ke pipa pesat kolam 400 kubik. Dari situ masuk ke turbin air, namanya turbin francis vertikal tipe tubin air Lumajan," jelasnya.
"Pipa ini juga belum pernah bocor dari zaman Belanda," sambungnya.
Sejak bekerja pada November 2016, dia mengakui tidak banyak perbaikan-perbaikan, yang dilakukan hanya perubahan sistem operasional yang dahulunya manual berubah menjadi otomatis.
"Dulu masih manual, dulu ngatur tegangan air debit masuk, frekuensi, sekarang otomatis di ruangan kontrol. Dulu harus ada 4 operator sekarang cuma 1 operator," tutupnya.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya