Kota Bandung Miliki Wilayah Kumuh Terbesar se-Jawa Barat Capai 1.400 Hektare

Selasa, 29 Oktober 2019 18:47 Reporter : Aksara Bebey
Kota Bandung Miliki Wilayah Kumuh Terbesar se-Jawa Barat Capai 1.400 Hektare Permukiman Kumuh di Tambora. ©2019 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Jawa Barat masuk ke dalam kategori provinsi dengan wilayah kumuh terbesar di Indonesia. Di sisi lain, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) harus berburu dengan waktu menyelesaikan sisa pekerjaan skala nasional sebanyak 39 persen hingga akhir tahun ini.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, pemerintah menetapkan luas kawasan pemukiman kumuh seluas 38.431 hektare. Jumlah itu tersebar di 34 Provinsi dengan 269 Kabupaten/Kota, 11.067 Kelurahan/Desa.

Kepala Balai Prasarana Pemukiman wilayah Jawa Barat dari Kementerian PUPR, Feriqo Yogananda mengklaim, hingga tahun 2018, penanganan kumuh telah mencapai 23.407 hektare atau mencapai 61 persen. Sedangkan sisanya, 15.024 hektare ditargetkan bisa rampung pada 2019 sebagai baras waktu dari RPJMN.

Dari angka itu, program Kotaku yang menangani wilayah kumuh di Jawa Barat seluas 4.148,57 hektare. "Kami sudah menyelesaikan wilayah kumuh di Jawa Barat seluas 2.206,39 hektare. Pada tahun 2019 masih menyisakan tantangan untuk diselesaikan seluas 1.942,18 hektare," kata dia saat ditemui usai Lokakarya Kotaku di Hotel Asrilia, Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung, Senin (29/10).

"Luasannya tersebar di 27 kota kabupaten (di Jawa Barat). Tapi yang paling banyak wilayah kumuh itu adalah Kota Bandung. Total luasan (wilayah kumuhnya) sekitar 1.400 hektare," dia melanjutkan.

Feriqo menegaskan bahwa pekerjaan yang dilakukan berkaitan dengan political will di suatu daerah. Dengan demikian, angka tersebut berdasarkan surat keputusan (SK) walikota di daerah bersangkutan kepada kementerian untuk ditanggulangi.

Untuk mempercepat pengerjaan, program ini mendapatkan tambahan anggaran. Tahun 2019, jumlah biaya Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat (BPM) skala nasional mencapai Rp314,5 miliar atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp223,9 miliar. Total Bantuan Dana untuk Masyarakat dari tahun 2017 sampai 2019 di Provinsi Jawa Barat mencapai Rp617,15 miliar.

"Kami tentu akan mencoba menangani wilayah kumuh ini bisa mencapai target pada akhir tahun. Kami akui itu sulit. Maka dari itu, penanganan ini memerlukan koordinasi dan sinergitas yang baik di kota kabupaten," ucap dia.

"Biasanya, yang menjadi kendala dalam penanganan wilayah kumuh itu kondisi dan status lahan. Seperti di daerah bantaran sungai, pemukiman di sepanjang rel kereta, atau bangunan yang tidak berdiri di atas tanah mereka sendiri. Ini tahapannya lebih panjang," dia melanjutkan.

Seperti diketahui, program Kotaku ini telah disosialisasikan kepada pemerintah daerah pada 27 April 2016 bertempat di Jakarta. Sumber pembiayaan Program Kotaku berasal dari pinjaman luar negeri lembaga donor, yaitu Bank Dunia (World Bank), Islamic Development Bank, dan Asian Infrastructure Investment Bank.

Selain itu kontribusi pemerintah daerah dialokasikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah maupun swadaya masyarakat. Tujuan umum program ini adalah meningkatkan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar di permukiman kumuh perkotaan untuk mendukung perwujudan permukiman perkotaan yang layak huni, produktif, dan berkelanjutan.

Wilayah pemukiman kumuh ditetapkan melalui sejumlah indikator. Di antaranya mencakup Bangunan Gedung, Jalan Lingkungan, Penyediaan Air Minum, Drainase Lingkungan, Pengelolaan Air Limbah, Pengelolaan Persampahan, Pengamanan Kebakaran, Ruang Terbuka Publik.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemukiman dan Perumahan, Dicky Saromi mengatakan bahwa wilayah pemukiman kumuh yang ditangani oleh Provinsi Jawa Barat seluas 629 ha, tersebar di 27 kabupaten kota. Dari angka itu, daerah yang paling mendominasi berada di sekitar Bogor dan Bekasi.

"Data ini terus kami update setiap tahun. Wilayah yang sudah dibangun pun harus dimaintenance. Makanya, kami berharap ada peran dari organisasi masyarakat mengelola unsur yang kita bangun itu. Jadi seperti air bersih, sumur bor kan harus dikelola," kata dia. [bim]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini