Kisah perempuan broker Harley Davidson, raup hingga Rp 10 juta/motor

Jumat, 11 Agustus 2017 07:00 Reporter : Desi Aditia Ningrum
Kisah perempuan broker Harley Davidson, raup hingga Rp 10 juta/motor Broker Harley Davidson. ©2017 Merdeka.com/Desi Aditia Ningrum

Merdeka.com - Dewi Haerany, wanita Sukabumi dan ibu tiga anak ini membuat heboh warganet karena aktivitasnya menjadi makelar motor Harley. Meski dunia ini identik dengan laki-laki, tak lantas membuat Dewi berkecil hati.

Kepada merdeka.com, Dewi Haerany (49) menceritakan seluk beluk berbisnis di dunia motor besar Harley Davidson. Mulai dari suka duka hingga pesannya kepada para anak muda yang ingin mengambil jalan hidup sepertinya.

Diiringi alunan musik di dealer tempatnya bekerja, Dewi mulai menceritakan bahwa ketertarikan terhadap usaha sudah muncul semenjak kecil dalam dirinya. Dia kala itu sering membantu ibunya berjualan. Kemampuannya dalam menjajakan barang semakin terasah seiring waktu berjalan.

Teteh, sapaan akrab Dewi, sering membantu rekan kantornya yang ingin menjual mobilnya. Teteh pun pernah menjadi tenaga pemasar atau sales mobil di salah satu dealer merek terkenal. Katanya, dia lebih nyaman membantu menjual barang orang lain dibanding duduk manis bekerja di kantor.

"Makanya paling sebulan tidak betah keluar," kata Teteh saat ditemui merdeka.com di dealer Baikers Garas, Jakarta, Rabu (9/8).

Broker Harley Davidson ©2017 Merdeka.com/Desi Aditia Ningrum

Atas alasan itu, Teteh sangat menikmati menjadi broker Harley Davidson. Bukan hanya soal penghasilan, sistem kerjanya pun hanya mengandalkan ponsel dan media sosial. Sehingga bisa memiliki banyak waktu untuk dihabiskan di rumah bersama anak-anak.

Teteh mengaku penghasilannya dalam menjual satu motor Harley bisa mendapat antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Dia tidak mematok besaran untuk komisinya.

"Teteh tidak pernah patokin kalau misal harganya Rp 300 juta komisi segini, yang Rp 500 juta segini. Ya itu bagaimana dia mau ngasih. Tapi ya rata-rata Rp 5 juta sampai Rp 10 juta," ungkap Teteh.

Paling besar, Teteh pernah mendapat komisi Rp 30 juta. Dari hasil bisnisnya itu, Teteh berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.

Selain itu, dia juga bisa mengenal banyak orang khususnya para konglomerat dari berbagai profesi. Meski demikian, Teteh jarang bertemu langsung dengan pelanggannya itu. Dia cukup komunikasi melalui telepon atau pesan singkat.

"Banyak hikmah dari bisnis ini, misalnya kemarin Teteh habis sakit pada dibantuin semua sama komunitas moge yang isinya dokter semua," kisah dia.

Teteh mengakui, saat ini penjualan tengah sepi seiring kondisi ekonomi Indonesia yang lesu. Saat ini setiap bulan minimal dia hanya dapat menjual dua motor Harley. Padahal, saat 2010-an, penjualan bisa mencapai 10 motor hingga 15 motor Harley per bulan.

"Apalagi pas dealer Harley tutup itu pengaruhin banget (penjualan). Ya setiap bulan minimal menjual dua Harley aja Alhamdulillah," ujarnya.

Broker Harley Davidson ©2017 Merdeka.com/Desi Aditia Ningrum

Kini dia dipercaya mengurus penjualan Harley bekas di dealer Baikers Garas di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Pemilik Harley yang ingin menjual motornya melalui Teteh bisa dititip di dealer tersebut.

Tak hanya offline, Teteh juga memasarkan secara online melalui Instagram. Teteh bercerita dealer tersebut milik temannya yang merupakan pecinta moge.

Sebelum mengakhiri percakapan, Teteh berpesan kepada para anak muda agar sukses dalam menjalankan usaha mesti didasari dengan kejujuran dan bertanggungjawab. Sebab, ketika sudah jujur orang bakal percaya dan tidak akan kecewa.

"Selama menjadi broker ya cuma kepercayaan, kejujuran dan bertanggungjawab sama apa adanya saja. Tapi jangan lupa berbagi juga sama orang lain," tutup dia. [bim]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini