Ketika Disleksia Membuat Miliarder Ini Menjadi Kaya

Kamis, 10 Oktober 2019 06:00 Reporter : Siti Nur Azzura
Ketika Disleksia Membuat Miliarder Ini Menjadi Kaya Richard Branson. ©blogspot.com

Merdeka.com - Sir Richard Charles Nicholas Branson atau yang lebih dikenal dengan Richard Branson adalah seorang industrialis asal Inggris, yang dikenal karena telah mendirikan 360 perusahaan di bawah bendera Virgin Group. Dia adalah orang terkaya ke-261 menurut daftar orang terkaya 2009 versi Forbes, dengan estimasi kekayaan mencapai USD 3,9 miliar.

Namun siapa sangka, Branson termasuk miliarder yang menderita disleksia, yakni sebuah gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7 hingga 8 tahun. Meski demikian, hal ini tidak menghalanginya untuk sukses.

Bahkan, disleksia memiliki peranan penting atas kesuksesannya. Menurutnya, orang-orang dengan kondisi tersebut cenderung memiliki "keterampilan masa depan."

Dalam sebuah posting blog yang diterbitkan pada hari Jumat, Branson mengatakan salah satu kekuatan yang sering dimiliki oleh penderita disleksia adalah imajinasi yang jelas.

"Itu membantu saya berpikir besar tetapi membuat pesan kami sederhana. Dunia bisnis sering terperangkap dalam fakta dan angka, dan walaupun detail dan datanya penting, kemampuan untuk bermimpi, membuat konsep dan berinovasi adalah yang membedakan antara yang sukses dan yang tidak berhasil," kata Branson dilansir CNBC Make It.

Pendiri Virgin Group menambahkan bahwa keterampilan yang terkait dengan disleksia akan sangat dibutuhkan di dunia kerja baru, mencatat laporan 2018 dari raksasa akuntansi EY yang mengklaim bahwa penderita disleksia memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk tempat kerja di masa depan.

"Pemecahan masalah, kreativitas dan imajinasi akan diminati dengan munculnya AI (kecerdasan buatan) dan otomatisasi," imbuhnya.

"Kita harus berhenti berusaha membuat semua anak berpikir dengan cara yang sama. Kita harus mendukung dan merayakan semua jenis neurodiversity dan mendorong imajinasi anak-anak, kreativitas dan pemecahan masalah, keterampilan masa depan."

Gagasan bahwa keterampilan kreatif akan menjadi semakin penting diakui secara luas. Pada bulan Agustus, John Abel, wakil presiden cloud dan inovasi di Oracle, mengatakan kepada CNBC bahwa karyawan membutuhkan keterampilan kreatif untuk melindungi mereka dari digantikan oleh robot.

Sementara itu, CEO Pearson John Fallon mengatakan kepada CNBC bulan itu bahwa kemampuan yang paling terisolasi dari otomatisasi adalah keterampilan manusia yang unik seperti kreativitas, persuasi dan empati. [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini