Ini cara anyar Arcandra tarik investasi ke sektor migas Tanah Air
Merdeka.com - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar mengakui, investasi di sektor minyak dan gas (migas) mengalami penurunan selama 2016. Hal ini diketahui setelah dia melakukan evaluasi terhadap kinerja sepanjang tahun.
Menurut Arcandra, ada beberapa hal yang memang perlu diperbaiki, baik dari segi birokrasi maupun praktik di lapangan. Sebut saja sejumlah blok-blok migas marginal yang sulit dikembangkan dan investor kurang tertarik untuk menggarapnya."Semoga dengan terbitnya PP 79 tentang cost recovery kita berharap ada perbaikan iklim investasi. Tapi apakah itu satu-satunya akan menaikkan iklim investasi, enggak. Ada yang lain-lain harus kita perbaiki, misalnya lapangan yang tidak bisa kita kembangkan kita beri insentif," ujarnya di Jakarta, Sabtu (10/12).
Insentif tersebut bisa saja berupa skema bagi hasil Gross Split. Saat ini Indonesia masih menggunakan skema bagi hasil dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) berupa cost recovery atau pengembalian biaya operasi hulu migas.
Gross Split sendiri merupakan sistem bagi hasil bersifat progresif yang diakumulasikan dalam satu tahun. Skema tersebut dianggap cocok diterapkan untuk wilayah kerja migas yang marginal.
Menurut Arcandra, skema Gross Split merupakan langkah berani bagi pemerintah. Sebab, melalui skema ini penerapan teknologi yang mumpuni begitu dituntut dalam setiap pengerjaan proyek migas.
"Insetifnya berupa fiskal, kita tawarkan juga gross split kalau berani, gross split itu berani-beranian, kalau mampu ada teknologi ya," pungkasnya.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya