Industri Iklan Digital Tumbuh Subur di India dan Indonesia, Ternyata Ini Faktor Pendorongnya

Secara global, hampir sepertiga iklan digital tidak terlihat oleh pengguna, yang menyebabkan pemborosan anggaran.

Deny19
Oleh Deny19 - Reporter
Industri Iklan Digital Tumbuh Subur di India dan Indonesia, Ternyata Ini Faktor Pendorongnya
Iklan Digital. (ilustrasi) (© 2025 Liputan6.com)

Pertumbuhan iklan digital di India dan Indonesia semakin pesat. Salah satu faktor pendorongnya adalah jumlah populasi yang besar di kedua negara tersebut. Dalam konteks ini, Glance mengumumkan kemitraan strategis dengan Integral Ad Science (IAS), yang merupakan platform terkemuka dunia dalam mengukur dan mengoptimalkan iklan digital. IAS akan memberikan layanan verifikasi independen untuk penayangan iklan digital di Glance.

Selain itu, Glance berkomitmen untuk meningkatkan kualitas periklanan, mengoptimalkan transparansi, dan memberikan akuntabilitas bagi merek yang ingin mengukur performa kampanye iklan di seluruh platform Glance.

Secara global, hampir sepertiga iklan digital tidak terlihat oleh pengguna, yang menyebabkan pemborosan anggaran iklan dan menghilangkan peluang untuk menjangkau konsumen. Melalui kemitraan ini, IAS dan Glance akan meluncurkan solusi pengukuran Invalid Traffic (IVT) dan viewability untuk meningkatkan kualitas media periklanan serta performa iklan bagi 250 juta pengguna di India dan Indonesia.

Solusi deteksi IVT akan mengurangi aktivitas anorganik (non-human) atau tindakan kecurangan seperti bot dan click farm. Sementara itu, solusi pengukuran viewability memastikan iklan memenuhi standar global, yaitu tampil di layar setidaknya 50 persen piksel selama satu detik untuk iklan display atau dua detik untuk iklan video.

Kedua metrik ini menjamin bahwa kampanye periklanan dapat menjangkau audiens yang nyata melalui metode yang efektif dan mudah diverifikasi. Gaurav Jain, SVP APAC di InMobi Advertising, menyatakan bahwa kemitraan antara Glance dan IAS mendukung pengiklan serta agen periklanan dalam menjangkau dan mengukur data audiens yang nyata dengan akurasi yang tinggi.

Solusi perlindungan dan pengukuran mutakhir dari IAS, menurutnya, dilengkapi dengan solusi premium berbasis pengguna nyata dari Glance, yang memberikan tingkat kepercayaan dan transparansi yang luar biasa.

"Kolaborasi ini membangun masa depan industri periklanan yang berbasiskan atensi dengan hasil yang terukur dan aman bagi merek," kata Gaurav Jain pada Senin (15/12/25).

Industri Iklan Digital Tumbuh Subur di India dan Indonesia
Iklan Digital. (ilustrasi) © 2025 Liputan6.com

Sementara itu, Laura Quigley yang menjabat sebagai SVP APAC di IAS menyatakan bahwa setelah iklan digital mengalami pertumbuhan pesat di India dan Indonesia, kebutuhan akan transparansi dan akuntabilitas semakin mendesak.

"Kami akan memberikan analisis yang jelas dan mudah untuk ditindaklanjuti agar kampanye iklan digital dapat menjangkau pengguna yang sebenarnya dan menghasilkan kinerja yang terukur, serta mengurangi tindakan penipuan dan pemborosan anggaran di seluruh ekosistem," tegasnya.

Glance telah mengubah cara konsumen menikmati konten dan berbelanja melalui perangkat seluler serta layar yang terhubung. Platform berbasis AI milik Glance menyajikan konten hiburan yang dipersonalisasi, berita, olahraga, belanja, dan banyak lagi untuk ratusan juta pengguna.

Selain itu, Glance juga memimpin era baru dalam perdagangan yang didukung oleh AI, serta menawarkan cara berbelanja yang benar-benar inovatif di pasar global. Platform konten dan bisnis Glance mencerminkan visi untuk membangun masa depan interaksi konsumen melalui inovasi berskala besar.

Kenapa Anak di Bawah 16 Tahun Tak Boleh Akses Medsos? Ini Penjelasan IDAI!
medsos adalah Ilustrasi dibuat AI © 2026 Liputan6.com

Sebelumnya, laporan YouGov Indonesia Media Consumption Report 2025 mengungkapkan bahwa kebiasaan masyarakat Indonesia dalam mengonsumsi media kini tidak lagi dipengaruhi oleh satu platform utama. Sebaliknya, masyarakat lebih memilih pengalaman lintas format yang fleksibel, melibatkan berbagai media seperti layar, audio, dan interaktif.

Fenomena ini terutama didorong oleh generasi Z yang semakin mengedepankan konsumsi media yang bersifat personal. Melalui survei nasional yang melibatkan lebih dari 1.000 responden, laporan ini mengupas bagaimana berbagai generasi berinteraksi dengan TV, radio, podcast, dan media sosial, serta memberikan wawasan mendalam bagi pelaku industri mengenai masyarakat yang semakin terhubung dan selektif dalam memilih informasi.

Edward Hutasoit, General Manager YouGov Indonesia & India, menyatakan bahwa dalam lanskap media yang semakin terfragmentasi, pengalaman konsumsi media menjadi aktif, emosional, dan sangat dipengaruhi oleh generasi. Ia menekankan bahwa laporan ini memiliki nilai penting bagi para kreator, platform, merek, institusi, serta pembuat kebijakan.

"Memahami kapan, di mana, dan mengapa masyarakat Indonesia berinteraksi dengan media menjadi kunci untuk membangun koneksi yang relevan dengan target audiens. Kami berharap laporan ini dapat memberikan wawasan lebih mengenai pola pikir media yang tengah berkembang di Indonesia," ungkapnya.

Dari hasil laporan tersebut, ditemukan bahwa generasi Z lebih banyak menghabiskan waktu secara online dengan ritme konsumsi media yang unik. Mereka jauh lebih mungkin dibandingkan generasi yang lebih tua untuk menghabiskan lebih dari lima jam dalam sehari untuk mengonsumsi media, baik pada hari kerja dengan persentase 16 persen maupun di akhir pekan yang mencapai 23 persen.

Hal ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam cara generasi muda berinteraksi dengan berbagai jenis media, yang tentunya menjadi perhatian bagi para pelaku industri untuk menyesuaikan strategi mereka dalam menjangkau audiens yang semakin cerdas dan selektif.

Mendengarkan podcast menjadi kegiatan yang semakin populer di kalangan generasi muda, dengan 45 persen responden Gen Z melaporkan bahwa mereka menghabiskan lebih dari satu jam setiap hari untuk mendengarkan podcast. Hal ini menunjukkan adanya permintaan yang meningkat akan konten yang lebih mendalam dan terfokus. Sementara itu, televisi tetap memiliki relevansi, terutama di kalangan generasi yang lebih tua yang cenderung mencari tayangan yang sudah dikenal.

Lebih dari separuh masyarakat Indonesia, yaitu 52 persen, masih menonton siaran televisi langsung, dan angka ini meningkat menjadi 61 persen di kalangan generasi tua. Namun, Gen Z menunjukkan penurunan minat terhadap televisi, dengan hampir setengah dari mereka menonton TV kurang dari satu jam setiap hari.

Media audio semakin menjadi pengalaman yang lebih personal dan berorientasi tujuan, serta bervariasi antar generasi. Hanya empat persen orang Indonesia yang mendengarkan radio setiap hari, dan sebagian besar dari mereka adalah orang tua milenial dengan pendapatan yang lebih tinggi.

Di sisi lain, podcast lebih diminati oleh audiens muda dengan penghasilan menengah, di mana Gen Z menyumbang 58 persen dari total pendengar podcast harian. Spotify telah menjadi platform audio yang paling banyak digunakan, dengan 81 persen masyarakat Indonesia mengaksesnya, yang sepuluh kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan Apple Music yang berada di peringkat kedua.

Selain itu, media sosial berfungsi sebagai platform untuk eksplorasi, pengambilan keputusan, dan belanja, terutama di kalangan Gen Z dan perempuan.

Mayoritas masyarakat Indonesia aktif menggunakan media sosial, dengan 81 persen dari mereka terlibat di platform ini. Dari jumlah tersebut, 61 persen pengguna harian berasal dari generasi Z. TikTok muncul sebagai platform dengan pertumbuhan tercepat, di mana hampir dua dari tiga Gen Z melaporkan peningkatan penggunaan dibandingkan tahun lalu. Ini menunjukkan bahwa generasi muda semakin beralih ke platform digital untuk berinteraksi dan mendapatkan informasi.

Rekomendasi