Indonesia berpotensi barter ikan dengan kapas dari Turki
Merdeka.com - Perdagangan antara Indonesia dan Turki dianggap belum maksimal. Padahal banyak potensi bisnis yang dapat digarap kedua negara.
Perwakilan Kamar Dagang dan Industri Turki (TUSKON) Osman Hakan Cepken menyatakan banyak pengusaha dari negaranya yang berminat menanamkan modal di Indonesia. Dia juga melihat banyak peluang bagi pelaku usaha Tanah Air mengekspor produk-produk ke negaranya.
"Buat saya sangat banyak kesempatan bisnis yang dapat ditingkatkan, Indonesia kaya sumber daya alam, selain minyak dan gas, sektor bisnis yang potensial bagi pengusaha Indonesia adalah ekspor produk perikanan," ujarnya kepada merdeka.com dalam pertemuan delegasi bisnis Turki-Indonesia, di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (19/2).
Perwakilan pengusaha Indonesia Rudy Pesik, di lain pihak, menyebut Turki sangat potensial sebagai pasar minyak sawit mentah (CPO), kakao, dan kopi. Dia mengaku baru saja membuka toko kopi di Istanbul dan sukses besar. Selain itu, dia melihat industri garmen Tanah Air perlu melirik Turki sebagai salah satu produsen kapas terbesar di dunia.
"Industri garmen kita bisa mendatangkan kapas dari Turki karena relatif lebih murah," ungkapnya.
Meski akhir tahun lalu, sempat ada persoalan larangan impor terigu dari Turki karena indikasi dumping, Osman melihat kerja sama kedua negara tidak akan terganggu. Buktinya, perdagangan Indonesia dan Turki terus meningkat sejak 2003.
"Ekspor terigu kami ke Indonesia memang menurun (sejak ada larangan), tapi kami masih bisa menawarkan produk lain, seperti produk manufaktur," kata Osman.
Selama satu dekade terakhir, Indonesia selalu mencatatkan surplus dalam perdagangan dengan Turki. Pada 2011, volume perdagangan antara kedua negara mencapai USD 2,24 miliar. Pada periode itu Indonesia tercatat surplus USD 1,9 miliar.
Sampai lima tahun ke depan, pemerintah kedua negara telah bersepakat meningkatkan volume perdagangan mencapai USD 5 miliar. (mdk/rin)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya