Indef Sebut Stok Beras Bulog Belum Mampu Tahan Kenaikan Harga

Kamis, 3 Oktober 2019 17:43 Reporter : Merdeka
Indef Sebut Stok Beras Bulog Belum Mampu Tahan Kenaikan Harga Beras Bulog. ©2018 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdullah menilai stok milik Perum Bulog belum mampu menahan pergerakan harga beras yang mulai mengalami kenaikan.

Rusli mengatakan, kenaikan harga beras saat ini terjadi di berbagai daerah karena kebutuhan konsumsi tiap bulan 2,5 juta ton hanya mampu dipenuhi oleh produksi 1,5 juta ton.

Kondisi ini menjadikan beras sebagai komoditas penyumbang inflasi sebesar 0,12 persen pada September 2019, padahal sebagian besar kelompok bahan makanan di periode ini mengalami penurunan harga dan memberikan kontribusi kepada deflasi.

"Ada gap antara supply and demand (permintaan dan penawaran)," kata Rusli.

Dia memperkirakan kondisi kenaikan harga beras ini akan terus berlanjut hingga Desember 2019 karena produksi beras mulai terbatas serta tidak adanya masa panen hingga akhir tahun.

Rusli juga menilai stok Bulog hanya mampu mencukupi kebutuhan hingga November 2019, dalam mengatasi fenomena yang juga disebabkan oleh musim kemarau panjang ini.

Oleh karena itu, dia mengharapkan adanya manajemen stok beras yang lebih memadai, agar kenaikan harga beras jelang akhir tahun tidak selalu menimbulkan keresahan bagi masyarakat. "Harus ada stok beras yang cukup untuk kebutuhan sampai masa panen tiba," katanya.

Sementara itu, pengamat pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas menambahkan defisit produksi beras yang menyebabkan terjadinya kenaikan harga di pasaran merupakan fenomena berulang setiap tahunnya.

Hal ini terjadi karena petani umumnya menunggu musim penghujan untuk mulai menanam. Selain itu, situasi ini juga diperparah oleh mundurnya musim tanam kedua akibat pergeseran musim pada 2019.

"Mulai September itu biasanya sudah minus. Dalam arti yang dipanen dengan konsumsi bulanan lebih besar konsumsi bulanan," kata Dwi Andreas.

Pada 2018, defisit produksi beras sebenarnya baru terjadi pada Oktober. Pasalnya, produksi beras pada September, waktu itu masih mencapai 2,78 juta ton dengan konsumsi sebanyak 2,43 juta ton.

Dwi Andreas mengharapkan pemerintah mencermati pola ini dan menyiagakan stok beras dalam beberapa bulan ke depan, karena produksi 2019 diperkirakan lebih rendah dari 2018 dan masa paceklik selesai pada Maret 2020.

"Penurunannya kira-kira setara dengan dua juta ton beras dibandingkan 2018, jadi harus diselamatkan sampai paling tidak Februari. Maret mungkin sebagian sudah panen, tapi tidak bisa langsung ke konsumen," ujarnya.

Namun, dia menilai stok Bulog telah mencukupi untuk saat ini, meski penghitungan secara cermat penting dilakukan agar kebutuhan masyarakat terhadap bahan pangan pokok tetap terpenuhi.

"Stok Bulog masih kelewat tinggi, masih 2,3 juta ton. Tapi pemerintah betul-betul harus menghitung cermat, stok sesungguhnya itu berapa. Dan apakah perlu tindakan tertentu terkait dengan cadangan beras," ujarnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadinya deflasi pada September 2019 sebesar 0,27 persen yang dipengaruhi oleh penurunan harga bahan makanan.

Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, tomat sayur, cabai rawit, telur ayam ras dan ikan segar.

1 dari 1 halaman

Stok Beras Bulog

Direktur Pengadaan Perum Bulog, Bachtiar memastikan stok beras aman meski musim kemarau panjang tengah melanda Tanah Air. Dia menegaskan Indonesia tidak perlu membuka keran impor beras.

"(Stok beras) Gak ada masalah lah. Pokoknya gak perlu kita impor ya. Beras gak ada masalah kita. Beras stok masih bagus masih 2.370.000 ton lebih," kata dia saat ditemui di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (2/9).

Bachtiar mengungkapkan di Indonesia meski sedang terjadi kemarau panjang yang mengakibatkan kekeringan, namun di beberapa daerah lainnya tidak terjadi hal tersebut. Sehingga daerah yang tidak mengalami kekeringan masih bisa panen dan membantu pasokan beras.

"Ada daerah yang kena kekeringan ada daerah yang masih hujan. Nah, jadi masalah stok beras ini pengadaan sampai hari ini rata - rata masih 4.000 ton. Terus operasi pasar cuma 3.000 ton gak nyampe. Artinya antara in sama out masih banyak in nya," ujarnya.

Oleh karena itu, dia menjelaskan langkah Bulog dalam mengantisipasi kekeringan dari segi pengadaan sudah tersebar ke seluruh wilayah Indonesia. "Di warehouse - warehouse gudang kita semuanya stok tuh sudah teralokasi dan siap untuk menghadapi itu (kemarau panjang) semua," ujarnya.

Selain itu, dia optimis menjelang akhir tahun ini di Pulau Jawa sudah mulai bersiap musim penghujan. Tepatnya bulan November atau Desember ini. Asumsinya, jika hujan turun di bulan-bulan tersebut maka panen raya diprediksi akan jatuh pada bulan April di tahun mendatang.

Stok beras yang ada saat ini, masih akan terus bertambah hingga akhir tahun dan dipastikan akan mencukupi hingga panen raya tahun depan. Stok tersebut untuk memenuhi permintaan komersil maupun Ketersediaan Pasokan Stabilisasi Harga (KPSH). Sehingga harga beras di pasaran pun akan selalu stabil.

"Stok cadangan kita kan cukup untuk mengantisipasi kalau ada lonjakan harga ya fungsinya Bulog stabilisasi harga toh kalau mahal kita turunkan kalau mahal kita beli. Nah kan gitu jelas," tutupnya. [idr]

Baca juga:
Masuk Masa Panen, Bulog Bisa Serap 3.000 Ton Beras per Hari
Budi Waseso: Tak Ada Impor Beras Hingga 2020
Kabupaten Bogor Siapkan Tiga Kecamatan sebagai Lumbung Padi Dunia
Stok Beras 2,5 Juta, Menteri Amran Tegaskan Cukup Penuhi Kebutuhan Hingga Akhir Tahun
Stok Beras Bulog Solo Capai 36.700 Ton, Cukup Untuk 2 Tahun

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini