Produk-produk buatan China semakin mendominasi pasar global, bahkan berhasil menembus pasar Amerika Serikat. Fenomena ini menimbulkan ironi tersendiri ketika salah satu simbol kampanye nasionalisme ekonomi AS justru terseret dalam pusaran asal-usul produk luar negeri.
Salah satu contoh paling ikonik adalah topi merah bertuliskan 'Make America Great Again' yang digunakan oleh Donald Trump saat kampanye. Topi tersebut selama ini diklaim sebagai produk asli buatan Amerika. Namun, benarkah klaim tersebut?
Dalam sebuah penyelidikan oleh kantor berita Associated Press (AP), terungkap bahwa meskipun topi-topi itu dijahit di sebuah pabrik kecil di Los Angeles, tidak semua bagiannya terbukti berasal dari dalam negeri. Setidaknya satu topi dalam sampel yang diuji tidak mengandung jenis kain khusus buatan AS yang menurut pernyataan pabrik selalu digunakan.
Dengan kata lain, ada kemungkinan bahan baku topi tersebut berasal dari luar negeri dan belum bisa dipastikan apakah itu buatan Amerika atau impor. Situasi ini mencerminkan betapa rumitnya menelusuri keaslian label 'Made in USA'.
Padahal, Trump menjadikan hal tersebut sebagai pondasi utama dalam kampanyenya: mengembalikan pekerjaan dan produksi ke tanah Amerika, meskipun itu berarti biaya produksi menjadi lebih tinggi.
Sementara itu, sebuah unggahan di Facebook yang menampilkan gambar topi MAGA bertuliskan “Made in China” sempat viral, meski terbukti keliru.
AP mengklarifikasi topi resmi kampanye Trump memang dibuat di Carson, California, oleh perusahaan Cali-Fame. Presiden perusahaan tersebut, Brian Kennedy, membenarkan bahwa produksinya dilakukan sepenuhnya di dalam negeri.
Advertisement
Namun, permasalahan tidak berhenti di situ. Beberapa topi tiruan yang dijual oleh pihak ketiga memang diproduksi di China dan secara eksplisit mencantumkan label 'Made in China'.
Ironisnya, produk-produk tiruan ini dijual bebas di berbagai platform seperti Amazon, dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan versi resminya.
Lebih lanjut, situs kampanye resmi Trump memang menegaskan bahwa semua produknya '100 persen dibuat di Amerika', tetapi situs lain yang juga berafiliasi dengan Trump, yakni Trump Store, menjual produk dengan label “dihiasi di AS” atau bahkan produk impor, seperti gelas anggur buatan Austria.
Hal ini semakin mengaburkan komitmen terhadap semangat produksi dalam negeri. Komisi Perdagangan Federal AS sendiri memiliki standar ketat: sebuah produk hanya bisa diberi label “Made in USA” jika “semua atau hampir semua” komponennya berasal dari dalam negeri. Maka tak heran, asal-usul kain topi kampanye ini menjadi kontroversi tersendiri.
Advertisement
Kisah topi MAGA ini menjadi cerminan nyata tantangan dalam menghidupkan kembali sektor manufaktur AS, di tengah dominasi barang-barang impor dari Asia yang menawarkan harga jauh lebih murah. Trump bahkan menuduh negara-negara Asia, termasuk China, memanipulasi nilai mata uang mereka untuk mempercepat ekspor.
Kendati tim kampanye Trump menyatakan telah mengunjungi pabrik dan meninjau dokumen untuk memastikan produk memenuhi kualifikasi label 'Made in USA', tetap saja celah pada rantai pasokan menimbulkan pertanyaan besar. Trump sendiri mengakui kesulitan memastikan bahwa semua bagian topi benar-benar berasal dari AS. Dia berkata, “Sangat penting bagi kami bahwa topi ini dibuat di AS.”
Pada akhirnya, meski upaya kampanye untuk menggunakan produk lokal patut diapresiasi, topi-topi tiruan buatan luar negeri tetap membanjiri pasar. Kampanye resmi menjual topi MAGA seharga USD25–USD30, sementara versi tiruannya tersedia dengan harga hanya USD6 secara online.
Bahkan Trump mengaku tidak tahu apakah para pendukungnya memeriksa label topi yang mereka beli, atau memang tidak terlalu peduli.