Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan keyakinannya bahwa peniadaan pesta kembang api pada perayaan pergantian tahun tidak akan mengurangi minat wisatawan. Keputusan ini diambil sebagai bentuk empati terhadap bencana yang melanda beberapa wilayah di Sumatera, sekaligus untuk mengedepankan kesiapsiagaan.
Koster menegaskan bahwa jumlah wisatawan yang datang ke Pulau Dewata justru mengalami peningkatan signifikan menjelang akhir tahun. Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik Bali tetap kuat, bahkan tanpa gemerlap kembang api yang biasa memeriahkan malam pergantian tahun sebelumnya.
Langkah ini sejalan dengan surat edaran Kapolri, sekaligus menjadi ajakan bagi masyarakat dan wisatawan untuk lebih fokus pada mitigasi bencana musim hujan. Fokus pada kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem dianggap lebih elok dan relevan di tengah kondisi nasional saat ini.
Advertisement
Advertisement
Keputusan untuk meniadakan pesta kembang api di Bali merupakan respons atas kondisi darurat bencana di beberapa daerah di Indonesia. Gubernur Koster menekankan pentingnya rasa empati terhadap korban bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara yang mengalami musibah besar.
Langkah ini juga sejalan dengan arahan dari Kapolri melalui surat edaran yang telah dikeluarkan, menunjukkan koordinasi yang baik antara pemerintah daerah dan pusat dalam menyikapi situasi nasional. Kebijakan ini diharapkan dapat dipahami oleh seluruh pihak.
Menurut Koster, suasana akhir tahun kali ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena adanya bencana besar yang menimbulkan banyak korban. Oleh karena itu, ia merasa kurang pantas dan tidak etis jika Bali mengadakan perayaan besar-besaran seperti pesta kembang api.
Advertisement
Advertisement
Pemerintah Provinsi Bali mengajak seluruh elemen masyarakat dan wisatawan yang berkunjung untuk mengalihkan perhatian dari perayaan menuju upaya mitigasi bencana. Fokus utama adalah kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir akibat musim hujan ekstrem yang melanda berbagai wilayah.
Gubernur Koster menyampaikan bahwa banyak terjadi banjir di berbagai wilayah di Indonesia, sehingga empati harus diwujudkan dalam bentuk perhatian serius terhadap mitigasi. Ini adalah prioritas utama di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu dan berpotensi menimbulkan dampak serius.
Ajakan ini bertujuan untuk menciptakan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga lingkungan dan mengantisipasi dampak buruk cuaca. Dengan demikian, perayaan Tahun Baru di Bali dapat berjalan dengan lebih aman, bermakna, dan penuh kepedulian terhadap sesama.
Advertisement
Advertisement
Meskipun tanpa pesta kembang api, data dari Bandara I Gusti Ngurah Rai justru menunjukkan lonjakan signifikan jumlah wisatawan. Selama periode Posko Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) dari 15 hingga 29 Desember, bandara telah melayani total 1.045.706 penumpang.
Secara rinci, Bali menerima 230.243 wisatawan domestik dan 335.977 wisatawan internasional dalam periode tersebut. Angka ini membuktikan bahwa daya tarik alam, budaya, dan keramahan Bali tetap menjadi magnet utama bagi para pelancong dari berbagai penjuru dunia.
Peningkatan kedatangan wisatawan semakin terasa mendekati malam pergantian tahun. Pada tanggal 29 Desember saja, Bandara Ngurah Rai mencatat telah mengangkut 77.307 penumpang, dengan dominasi kedatangan baik dari rute domestik maupun internasional. Ini menegaskan optimisme Gubernur Koster.
Advertisement
Pada hari Senin, 29 Desember, penerbangan domestik membawa 17.176 penumpang dan penerbangan internasional membawa 23.544 penumpang masuk ke Bali. Total kedatangan yang tinggi ini menunjukkan bahwa keputusan peniadaan kembang api tidak mengurangi antusiasme wisatawan untuk merayakan Tahun Baru di Pulau Dewata.
Sumber: AntaraNews