PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menunjukkan komitmen kuat terhadap pembiayaan berkelanjutan. Lembaga pembiayaan infrastruktur ini telah mengalokasikan 22 persen dari total portofolionya untuk proyek-proyek energi terbarukan. Hal ini disampaikan dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis, 11 September. Komitmen ini merupakan bagian dari upaya IIF dalam mendukung agenda transisi iklim nasional yang lebih luas.
Presiden Direktur/CEO IIF, Rizki Pribadi Hasan, menegaskan pentingnya peran IIF dalam mendukung transisi iklim nasional. Pernyataan tersebut disampaikan Rizki dalam ajang Climate Capital, Risk and Impact Conference 2025. Konferensi bergengsi ini diselenggarakan oleh Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) di Mumbai, India. Forum internasional ini menjadi platform penting untuk mendiskusikan solusi pembiayaan iklim.
Alokasi signifikan ini mencakup berbagai jenis pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Proyek-proyek yang didanai meliputi tenaga surya, hidro, biomassa, hingga panas bumi. Rizki menyatakan, "Alat pembiayaan ini krusial untuk memastikan proyek infrastruktur di Indonesia tidak hanya mencapai financial close, tetapi juga berkontribusi nyata dalam agenda transisi iklim nasional."
Advertisement
Advertisement
Pionir Pembiayaan Hijau di Indonesia
IIF mengklaim diri sebagai pionir dalam pengembangan instrumen pembiayaan hijau di Indonesia. Lembaga ini menjadi yang pertama di antara lembaga non-bank yang menerbitkan Global Sustainable Bond pada tahun 2021. Instrumen pendanaan ini dirancang khusus untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di berbagai sektor vital. Keberanian IIF dalam meluncurkan obligasi semacam ini menunjukkan visi jangka panjang perusahaan.
Inovasi IIF tidak berhenti di situ. Pada tahun 2024, IIF kembali mencetak sejarah dengan meluncurkan surat berharga perpetual atau green perpetual notes pertama. Surat berharga ini tercatat di bursa efek, secara signifikan memperluas opsi pendanaan hijau di pasar domestik. Langkah ini memberikan sinyal positif bagi investor yang mencari peluang investasi berkelanjutan.
Kehadiran instrumen-instrumen ini menunjukkan komitmen kuat IIF dalam memfasilitasi proyek-proyek ramah lingkungan. Ini juga memberikan alternatif pendanaan yang inovatif bagi proyek infrastruktur berkelanjutan. IIF berharap langkah ini dapat menarik lebih banyak investor yang peduli terhadap isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Advertisement
Advertisement
Dukungan Inovatif untuk Stabilitas Keuangan Proyek
Selain pembiayaan konvensional, IIF juga mengembangkan produk pelengkap fungsi perbankan dan pasar modal. Salah satunya adalah Cash Deficiency Support Facility. Mekanisme ini dirancang untuk membantu menstabilkan arus kas proyek-proyek yang didanai, terutama pada fase-fase awal operasional.
IIF juga menyediakan Credit Enhancement Facility. Fasilitas ini berfungsi sebagai mekanisme penjaminan untuk meningkatkan peringkat obligasi klien. Peningkatan peringkat ini sangat penting karena dapat menekan biaya pendanaan secara signifikan, membuat proyek lebih menarik bagi investor.
Dengan adanya fasilitas ini, akses klien terhadap investor menjadi lebih luas dan lebih efisien. Hal ini krusial untuk proyek infrastruktur jangka panjang yang membutuhkan pendanaan besar dan stabil. IIF berupaya menciptakan ekosistem pembiayaan yang lebih kuat dan stabil untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
Advertisement
Advertisement
Kolaborasi Global untuk Transisi Energi
Rizki Pribadi Hasan menekankan pentingnya kolaborasi antar lembaga pembiayaan pembangunan (DFI), perbankan, dan pasar modal. Sinergi ini sangat krusial untuk memobilisasi triliunan dolar pembiayaan transisi energi global yang dibutuhkan. Tanpa kolaborasi, target emisi nol bersih akan sulit tercapai.
Pendekatan yang diusung mencakup pemanfaatan pendanaan campuran atau blended finance. Selain itu, penerapan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) juga menjadi kunci dalam setiap proyek. Pengembangan instrumen utama seperti pembiayaan berbasis mata uang lokal turut diperhatikan untuk mengurangi risiko nilai tukar.
Diskusi panel pada Climate Capital, Risk and Impact Conference 2025 menggarisbawahi peran vital DFI. DFI memiliki peran penting dalam menjembatani kesenjangan pembiayaan yang sangat besar. Hal ini agar negara berkembang mampu mencapai target transisi menuju emisi nol bersih secara efektif dan berkelanjutan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews