Dukung industri 4.0, Bos Bappenas Fokus Kembangkan SDM dan Penguasaan Iptek

Rabu, 3 April 2019 18:07 Reporter : Anggun P. Situmorang
Dukung industri 4.0, Bos Bappenas Fokus Kembangkan SDM dan Penguasaan Iptek Dialog Nasional Milenial Indonesia dalam Ekonomi Kreatif Di Era Revolusi Industri 4.0. ©Humas Bappenas

Merdeka.com - Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro memberi pidato kunci dalam Seminar dan Dialog Nasional, Milenial Indonesia dalam Ekonomi Kreatif Di Era Revolusi Industri 4.0 yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Organisasi Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (HIMPUNI) di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (3/4).

Dalam kesempatan itu, Bambang berbicara mengenai revolusi industri 4.0 fokus pada pembangunan manusia dan penguasaan Iptek. Dia mengatakan, komoditas merupakan alat pemacu pertumbuhan ekonomi di masa lalu sementara ke depan persaingan akan lebih banyak mengenai digital.

"Minyak dan gas adalah masa lalu, sementara digital adalah masa depan kita. Di 2013, empat dari lima perusahaan terbesar dunia adalah minyak dan gas. Namun di 2018, lima dari lima perusahaan terbesar adalah teknologi digital," ujarnya melalui siaran pers, Jakarta, Rabu (3/4).

Perkembangan teknologi digital tidak hanya menggeser landskap persaingan global, tetapi juga membuka peluang baru bagi bidang yang belum pernah ada sebelumnya. Untuk itu, Pemerintah Indonesia dengan cepat dan tanggap merespon tantangan dan peluang ini.

"Keberhasilan Indonesia untuk mengkapitalisasi tren teknologi digital akan berdampak untuk membuka jenis lapangan kerja baru, membawa kemudahan dan kenyamanan pada pelanggan, meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam proses produksi, membuka akses pembiayaan inklusif, serta mendorong pertumbuhan ekonomi. Semuanya itu juga akan berujung pada pencapaian SDGs Indonesia," jelas Bambang.

Digitalisasi terus merambah ke segala bidang. Di bidang pendidikan, dapat dilihat bagaimana Ruangguru memudahkan para siswa untuk menemukan guru les yang sesuai dengan preferensi. Di bidang infrastruktur, juga dapat dirasakan bagaimana Gojek dapat mengubah cara manusia membeli makanan, berpindah tempat, dan bahkan melakukan pembayaran dengan Fintech.

Melihat kondisi angkatan kerja di Indonesia, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah. "Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih rendah dan laju pertumbuhan produktivitasnya lebih lambat dibandingkan negara ASEAN lainnya. Angkatan kerja SMP ke bawah dan pekerja berkeahlian rendah masih mendominasi pasar kerja Indonesia di 2018," jelasnya.

"Begitu pula dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan pendidikan menengah lebih tinggi dari nasional. Untuk itu, Pemerintah Indonesia memprioritaskan pilar pembangunan manusia serta penguasaan IPTEK di dalam visi Indonesia 2045, yaitu kondisi ideal yang harus kita capai ketika 100 tahun Indonesia merdeka," sambungnya.

Selain pembangunan manusia serta penguasaan IPTEK, ketiga pilar lainnya untuk mewujudkan Visi Indonesia 2045 adalah pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, serta pertahanan nasional dan tata kelola pemerintahan.

Menurut Menteri Bambang, Visi Indonesia 2045 menjadi kompas bagi Indonesia dalam menentukan prioritas pembangunan, dan kerja keras untuk mewujudkan visi ini sudah mulai kita kerjakan. Sejak 2015 hingga 2045, Pemerintah Indonesia telah menetapkan target capaian untuk setiap pilar Visi Indonesia 2045.

"Khusus untuk tahapan pengembangan IPTEK dan inovasi menyongsong Visi 2045, Pemerintah Indonesia telah menetapkan tiga area fokus beserta targetnya, yaitu jumlah Center for Excellence in Science and Technology yang terakreditasi, persentase SDM Sains dan Teknologi dengan gelar Ph.D, serta jumlah perusahaan yang dibina menjadi perusahaan berbasis teknologi," katanya.

Untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia, Pemerintah Indonesia mempersiapkan tiga hal. Pertama, peningkatan keterlibatan industri dalam penyusunan standar dan kurikulum pendidikan dan pelatihan vokasi. Kedua, peningkatan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan termasuk magang yang berbasis kompetensi.

"Ketiga, penguatan penyelenggaraan sistem sertifikasi profesi. Ketiga hal ini perlu untuk memastikan Indonesia dapat meraup keuntungan dari Revolusi Industri 4.0 ini," jelas Bambang. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini