Diam-Diam China Ternyata Sudah Susun Strategi Lawan Trump, Bahkan Sebelum Hasil Pemilu AS Diumumkan
Berbulan-bulan sebelum November, pegawai di berbagai departemen pemerintah dan perusahaan besar milik negara China bekerja sudah bekerja keras.
Pemerintah China diam-diam sudah bergerak menyusun rencana untuk menghadapi Donald Trump. Bahkan, rencana ini sudah disiapkan sebelum hasil pemilu Amerika Serikat (AS) diumumkan
Berbulan-bulan sebelum November, pegawai di berbagai departemen pemerintah dan perusahaan besar milik negara China bekerja keras menyiapkan strategi untuk mengantisipasi dampak dari kemungkinan terpilihnya kembali Trump.
"Kami mulai mendalami segala hal tentang Trump sejak pertengahan tahun lalu. Kami melakukan penelitian dan kajian dari semua sudut pandang mempelajari setiap ucapan dan tindakannya di masa lalu," ujar seorang eksekutif senior dari salah satu lembaga keuangan terbesar di China.
Melansir dari South China Morning Post, para pejabat China bekerja siang dan malam untuk menghadapi potensi pecahnya perang dagang baru. Bahkan, semua perjalanan bisnis pada akhir Februari diwajibkan berfokus pada urusan perdagangan, kecuali ada pengecualian mendesak.
Para pemimpin China sadar betul bahwa Trump dikenal tidak dapat diprediksi dan cenderung menerapkan kebijakan agresif terhadap China, seperti memberlakukan tarif tinggi atas produk impor dari negara tersebut.
Fokus utama mereka adalah menyusun penilaian mendalam dan rencana darurat untuk menanggulangi guncangan ekonomi yang mungkin timbul dari kebijakan Trump, menurut dua sumber yang mengetahui langsung situasi ini. Meski tarif dan ancaman pemisahan ekonomi melampaui banyak ekspektasi, Beijing tetap bertekad memperluas alat-alat kebijakannya guna melawan guncangan besar.
Perang Tarif Dimulai
Awal bulan ini, Trump menetapkan pajak impor sebesar 145 persen terhadap barang-barang dari China, sehingga tarif efektif mencapai sekitar 156 persen. Sementara itu, Beijing juga membalas dengan menaikkan tarif atas barang-barang AS hingga 125 persen, lebih tinggi dari tarif sebelumnya.
Beberapa hari setelah kebijakan tarif diumumkan, Trump menyatakan penundaan penerapan selama 90 hari, tetapi pengecualian diberikan untuk tarif terhadap China. Menurut sumber-sumber di Beijing, China telah mempersiapkan diri dengan data dan analisis mendalam mengenai ketahanan mereka menghadapi eskalasi perang dagang ini.
Dampak dari tarif diperkirakan akan lebih terasa pada ekonomi domestik China pada kuartal kedua tahun ini. Namun, pemerintah China tetap percaya diri, menyatakan bahwa mereka memiliki cukup banyak alat untuk menahan tekanan dan mengelola risiko perlambatan ekonomi.
Tak hanya itu, China juga bersumpah untuk berjuang sampai akhir bila diperlukan. Naik turunnya kekuasaan tidak pernah terjadi dengan mudah ini sering kali soal hidup dan mati.
"Meskipun perang fisik mungkin tidak terjadi antara China dan Amerika Serikat, pertempuran besar sedang berlangsung di banyak bidang lain," ujar seorang pejabat ekonomi China.
Pejabat tersebut menggambarkan cara Trump bernegosiasi, "Dia mengincar 50, tetapi menuntut 100. Kita harus tetap tenang dan rasional dalam menilai perubahan dinamika kekuatan antara China dan AS. Trump ingin menghambat pembangunan China, tetapi dia tidak bisa membatasi hukum ekonomi yang berlaku," tegasnya.
Menurutnya, situasi ini justru bisa menjadi kesempatan sekali seumur hidup bagi China untuk memperkuat keamanan ekonomi dan nasionalnya dalam jangka panjang. Sementara itu, ada tanda-tanda bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan pemotongan tarif terhadap China.
Dialog Kedua Belah Pihak
Trump sempat mengatakan bahwa kedua pihak sedang berdialog untuk mencapai kesepakatan klaim yang segera dibantah oleh Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan China, yang menyebut pernyataan itu sebagai berita palsu.
Kementerian Luar Negeri China kembali menegaskan bahwa tidak ada konsultasi atau negosiasi tarif yang tengah berlangsung dengan AS.
"Kita harus berdiri teguh dan kuat. Jika kita berkompromi sekarang, semua upaya sebelumnya akan sia-sia," kata pejabat ekonomi tersebut.
Dia menekankan saat ini, pertimbangan politik jauh lebih dominan daripada pertimbangan ekonomi dalam kebijakan China. Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri China juga menegaskan bahwa jika AS benar-benar ingin menyelesaikan perselisihan ini, maka Washington harus meninggalkan taktik tekanan maksimum, berhenti melakukan ancaman dan paksaan, serta mau berdialog dengan China berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan saling menguntungkan.
Di tengah ketegangan ini, China semakin memperkuat ketahanan ekonomi domestiknya dan mempererat kemitraan regional.
Beijing aktif menghubungi mitra dagang utama untuk mencari kerja sama dalam melawan tarif AS. Beberapa negara pun memanfaatkan periode 90 hari penundaan tarif untuk mencapai kesepakatan mereka sendiri dengan Washington.
Vietnam, salah satu mitra dagang penting China, menyatakan kesediaannya untuk menurunkan tarif atas produk-produk AS menjadi nol sebagai imbalan atas pengurangan tarif terhadap ekspor mereka.
Di sisi lain, delegasi Jepang mengunjungi Washington minggu lalu, sementara Perdana Menteri India Narendra Modi bertemu Wakil Presiden AS JD Vance di New Delhi untuk membahas isu perdagangan. Dalam kedua pertemuan tersebut, Gedung Putih mengklaim adanya kemajuan.
Meskipun menghormati keputusan negara-negara lain untuk bernegosiasi dengan Trump demi kepentingan nasional masing-masing, Kementerian Perdagangan China memperingatkan agar kesepakatan tersebut tidak mengorbankan kepentingan China.
"Fokus kita bukan hanya pada hari ini, tetapi pada masa depan. Semakin banyak negara yang berkompromi dengan AS, semakin besar ketergantungan mereka, dan semakin besar pula kebutuhan mereka untuk memperdalam hubungan ekonomi dan perdagangan dengan China," ujar pejabat ekonomi tersebut.