Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Dahlan ngotot penjualan TelkomVision demi kebaikan negara

Dahlan ngotot penjualan TelkomVision demi kebaikan negara Telkom Vision. ©2012 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Anggota Komisi VI DPR menyoroti sikap pemerintah yang mengizinkan PT Telkom menjual saham mayoritas anak usahanya TelkomVision kepada pengusaha Chairul Tanjung. Rencananya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan bakal dipanggil untuk menjelaskan alasan penjualan perusahaan televisi berbayar tersebut.

Menanggapi rencana DPR memanggilnya, Dahlan santai. Dia mengaku siap menjelaskan alasan TelkomVision dijual ke TransCorpora.

"Itu terserah lah, saya ikut saja. Enggak apa-apa, baik itu," ujarnya singkat selepas menjadi panelis di 'Mandiri Investment Forum', Jakarta, Senin (11/11).

Mantan Dirut PLN ini berkukuh TelkomVision mendesak untuk dijual, karena gagal meningkatkan kinerja. Ketika direksi Telkom menghubunginya soal rencana menjual televisi langganan itu, dia langsung setuju.

"TelkomVision kan sudah bertahun-tahun rugi, kemudian sudah berkali-kali ganti direksi enggak bisa menanjak, kalau anda jadi direksinya, mau diapakan," tuturnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Erik Satrya Wardhana menilai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan gegabah karena menjual TelkomVision kepada PT TransCorp.

Anak perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang berbisnis televisi berlangganan itu dianggap masih berpotensi meraup keuntungan. Erik justru mempertanyakan, apa alasan Dahlan ngotot menjual Telkomvision ke Chairul Tanjung, meski sudah diingatkan DPR.

"Dahlan Iskan seharusnya tidak gegabah dalam memutuskan penjualan TelkomVision kepada Transcorp, karena Komisi VI DPR sudah merekomendasikan kepada pemerintah untuk membatalkan rencana penjualan TelkomVision tersebut," kata Erik pekan lalu.

Protes itu mengemuka, selepas 8 Oktober lalu, Telkom resmi menjual 1,03 miliar lembar saham TelkomVision atau setara 80 persen saham perusahaan itu kepada TransCorp senilai Rp 926,5 miliar.

Politikus dari Fraksi Hanura ini beralasan, memang sempat muncul gagasan menjual TelkomVision lantaran kerap merugi. Namun, dari data terakhir terlihat bahwa nominal kerugian perseroan terus menurun, khususnya 5 tahun terakhir.

Namun, Riset Media Partners Asia (2012) menunjukkan Indonesia bakal memiliki pertumbuhan pelanggan TV berlangganan tertinggi di Asia Pasifik sebesar 26,7 persen hingga 2016 mendatang. Potensi ini lebih tinggi dibandingkan Malaysia (4,6 persen), Singapura (4,6 persen), atau Korea Selatan (3,4 persen).

"Ada beberapa TV berlangganan yang lebih belakangan beroperasi namun bisnisnya tetap dipertahankan oleh masing-masing pemiliknya. Berarti, pada umumnya para pelaku industri ini masih optimis dan serius mengelola. Ironisnya, TelkomVision yang sudah berdiri sejak 1997 dan beroperasi pada 1999 malah dijual," urai Erik. (mdk/bim)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP