Cerita Menteri Rini ubah kebiasaan bos BUMN dari enggan jadi cinta blusukan
Merdeka.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menceritakan kisahnya saat melakukan kunjungan kemitraan bina lingkungan ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Hal tersebut dilakukan agar dapat merasakan langsung apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh masyarakat.
"Saya seringkali merasa, orang dikasih uang sudah tidak perlu lagi ada pendampingan. Padahal bukan itu poinnya. Masyarakat masih butuh bimbingan, pelatihan, binaan, kita harus ke sini untuk lihat, sebenarnya mereka butuh apa," ujar Menteri Rini di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (18/8).
Menteri Rini mengatakan dalam melakukan kunjungan ke daerah, dirinya selalu mengajak serta para direktur utama BUMN. Namun, dulunya tak jarang dari mereka yang menghindar atau menolak untuk ikut serta.
"Tadinya enggan. Ini menteri ku ngapain ngajak kesana kemari. Kalau sekarang saya melihat mereka semua sudah into (tertarik). Terutama setelah saya mengajak mereka pergi lihat titik-titik rumah veteran yang ternyata tidak laik huni, mereka lihat sendiri," paparnya.
Menteri Rini menambahkan, kunjungan ke daerah sedikit banyak telah menimbulkan kembali rasa cinta Tanah Air di jajaran BUMN. Kunjungan tersebut juga telah menimbulkan rasa kebersamaan untuk bersama-sama memperbaiki nasib bangsa ke depan.
"Itu menggugah hati mereka semua, betul-betul saya meyakini mereka merasakan dan lebih rasa sayangnya itu ada untuk bagaimana bersama-sama memperbaiki nasib bangsa," jelasnya.
Saat melakukan kunjungan, dia juga selalu menekankan agar bantuan yang diberikan kepada masyarakat tepat sasaran dan tidak melenceng. Contohnya, ketika memberi bantuan gedung sekolah harus dipastikan apakah ada guru yang akan mengajar atau tidak.
Selain itu, pemberian bantuan peralatan belajar juga harus dilakukan seefektif mungkin sehingga tidak asal memberi bantuan.
"Saya selalu menekankan bangun gedung sekolah, tapi kalau kita tidak bina juga gedung sekolah ini mau buat apa? Ada yang mengajar atau tidak? Apakah yang di daerah situ sudah jelas? Saya selalu menekankan juga, sekarang kalau kita bicarakan membantu siswa, yang kita harus bantu adalah perangkat untuk belajar sudah ada atau belum," jelasnya.
"Jadi saya mengatakan kepada pemberi CSR, oke bagaimana kalau kita memberikan komputer di situ bekerjasama dengan balai pustaka. Jadi semua buku-buku balai pustaka dimasukkan ke situ, mereka bisa download internet tidak bayar dan mereka bisa belajar memanfaatkan internet. Jadi program itu kita samakan dengan Telkom. Sehingga program kita lebih menekankan yang betul-betul bisa memperbaiki kehidupan mereka," pungkasnya.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya