Cadangan Migas Pertamina EP Kurang dari 10 Tahun

Selasa, 4 Februari 2020 17:02 Reporter : Merdeka
Cadangan Migas Pertamina EP Kurang dari 10 Tahun RDPU Soal Cadangan Minyak Pertamina EP. ©2020 Liputan6.com/Athika Rahma

Merdeka.com - Direktur Utama Pertamina EP Nanang Abdul Manaf menyatakan, cadangan minyak dan gas (migas) perusahaan yang dikelolanya saat ini tidak dapat mencukupi produksi di atas 10 tahun. Jika perusahaan tidak segera menemukan sumur baru untuk digali, maka produksi terancam tidak dapat dilakukan.

"Cadangan minyak tinggal 9,7 tahun lagi, sedangkan cadangan gas tinggal 7,8 tahun. Artinya betul, kita harus melakukan eksplorasi lagi," kata Nanang dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Selasa (4/2).

Oleh sebab itu, dia berharap adanya diskusi lebih lanjut dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam hal eksplorasi sumur galian agar produksi perusahaan dapat terus dilakukan. Tahun ini, Pertamina EP menargetkan akan menggali 12 sumur.

Tidak hanya itu, perusahaan juga harus menemukan cadangan dengan melakukan survey seismik dan menggunakan teknologi yang ada di sekitar sumur saat ini.

1 dari 1 halaman

Lifting Migas Tak Capai Target

tak capai target

Pertamina EP hingga saat ini berhasil melakukan lifting minyak 82.210 barel per hari. Jumlah tersebut tidak mencapai target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang mengharuskan perusahaan melakukan lifting 85 ribu barel per hari.

Sementara untuk lifting gas sendiri, Pertamina EP memproduksi 749 ribu mmcfd, kurang dari target APBN 2019 sebesar 768 ribu mmcfd. Menurutnya, penyebab penurunan lifting migas ialah daya serap pembeli yang turut menurun.

"Contohnya di Mantindok dan Donggi, karena LNG spot turun, maka produksi turun dalam empat bulan terakhir dari Agustus jadi tinggal 30 persennya," jelasnya.

Di sisi lain, target eksplorasi sumur di 2019 juga tidak tercapai, di mana perseroan hanya menggali 8 sumur, padahal targetnya 11.

Dari segi kinerja keuangan, tercatat pendapatan dan laba perusahaan yang diperoleh pada 2019 juga meleset dari target. Hal ini disebabkan harga minyak dunia melesat dari proyeksi pemerintah.

"Target kami 2019 bisa raup USD 3,808 miliar Realisasi kami sebesar USD 3,555. Target laba 2019 USD 639 juta, realisasinya USD 758 juta," tandasnya.

Reporter: Athika Rahma

Sumber: Liputan6.com [azz]

Baca juga:
Antisipasi Industri Migas Rugi, Pemerintah Diminta Kaji Dampak Penurunan Harga Gas
Menteri Arifin Sebut Penurunan Harga Gas Tak Kurangi Jatah Produsen Migas
Kembali Terapkan Cost Recovery, ESDM Sebut Skema Gross Split Tak Menarik Investor
Konsesi Masih Dikuasai Chevron, Transisi Blok Rokan Sulit Dilakukan
Tahan Penurunan Produksi Blok Migas Tua, Pertamina Bor 411 Sumur di 2020
Menteri Arifin Buka-bukaan Masalah Lifting Minyak, Diramal Cuma 743.000 Bph di 2024

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini