BTN Perkuat Komitmen Perbankan Berkelanjutan dengan Fokus ESG dan Inovasi Ramah Lingkungan

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menegaskan komitmen kuatnya terhadap **perbankan berkelanjutan** melalui praktik green banking, menargetkan ESG Rating AA dan berbagai program inovatif. Simak detailnya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BTN Perkuat Komitmen Perbankan Berkelanjutan dengan Fokus ESG dan Inovasi Ramah Lingkungan
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menegaskan komitmen kuatnya terhadap **perbankan berkelanjutan** melalui praktik green banking, menargetkan ESG Rating AA dan berbagai program inovatif. Simak detailnya! (AntaraNews)

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) secara resmi menegaskan komitmen kuatnya untuk mendukung transisi menuju industri perbankan nasional yang berkelanjutan. Hal ini diwujudkan melalui implementasi prinsip green banking atau praktik perbankan yang berwawasan lingkungan. Penegasan ini disampaikan Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, di Jakarta pada Jumat, 23 Januari.

Langkah strategis ini menempatkan BTN sebagai pionir di Indonesia, dengan target meraih ESG Rating AA berdasarkan MSCI ESG Ratings pada tahun 2025. Pencapaian ini didorong oleh portofolio pembiayaan yang selektif dan program-program inovatif yang berlandaskan keberlanjutan. BTN membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis dapat sejalan dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial.

Komitmen ini tidak hanya sebatas pernyataan, melainkan telah terintegrasi dalam operasional dan strategi bisnis bank. Berbagai inisiatif telah diluncurkan untuk memastikan setiap aspek kegiatan BTN berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang lebih hijau dan inklusif. Fokus utamanya adalah pada sektor perumahan dan konstruksi yang ramah lingkungan.

Nixon LP Napitupulu menjelaskan bahwa faktor utama yang mendukung posisi BTN dalam ESG adalah portofolio pembiayaan yang bersih dari sektor-sektor pencemar. "Karena faktor utama yang sudah clear yaitu BTN tidak membiayai sektor-sektor yang membuat langit jadi kotor," ujar Nixon. BTN secara tegas tidak memiliki portofolio pembiayaan di sektor batubara dan sawit, yang dikenal sebagai sektor ekstraksi bumi dengan dampak lingkungan signifikan. Ini menunjukkan komitmen bank dalam menghindari investasi yang merugikan ekosistem.

Sekitar 90 persen portofolio BTN terkonsentrasi pada sektor perumahan dan konstruksi. Mayoritas pembiayaan ini disalurkan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), memperkuat peran BTN dalam aspek sosial ESG. Fokus pada MBR tidak hanya mendukung akses perumahan, tetapi juga mengurangi kesenjangan sosial. Sisa 10 persen portofolio lainnya juga berkorelasi dengan sektor perumahan, seperti pembiayaan distribusi air untuk perumahan.

BTN juga terlibat dalam sindikasi kredit untuk Perusahaan Listrik Negara (PLN), namun secara spesifik untuk distribusi listrik, bukan untuk pembangkit listriknya. Pendekatan ini menunjukkan kehati-hatian BTN dalam memilih proyek yang didanai. Hal ini memastikan bahwa kontribusi BTN tetap sejalan dengan tujuan keberlanjutan. Prioritas pada proyek-proyek ramah lingkungan menjadi landasan utama strategi pembiayaan bank.

Penerapan prinsip ekonomi sirkular menjadi pilar penting dalam proses bisnis BTN. Salah satu program unggulan adalah "Rumah Rendah Emisi" yang menargetkan pembangunan 150.000 unit hingga tahun 2029. Melalui program ini, BTN menawarkan pembiayaan berbunga rendah kepada pengembang yang menggunakan material daur ulang. Ini mendorong penggunaan bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

BTN juga menjalin kerja sama dengan perusahaan rintisan yang berfokus pada pengolahan sampah rumah tangga. Sampah-sampah tersebut diolah menjadi bahan bangunan eco-friendly, menciptakan nilai tambah dari limbah. Inisiatif ini tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga mendukung inovasi dalam industri konstruksi. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen BTN terhadap solusi inovatif.

Program terbaru yang diluncurkan adalah "Bayar Angsuran-Mu Pakai Sampah-Mu". Program ini memungkinkan nasabah Kredit Pemilikan Rumah (KPR) BTN untuk mengumpulkan sampah rumah tangga. Sampah tersebut kemudian diolah dan dikonversi menjadi nilai rupiah yang masuk ke tabungan debitur. Ini dapat mengurangi angsuran bulanan sekitar 10-15 persen, memberikan manfaat ekonomi sekaligus lingkungan bagi nasabah.

Nixon juga menyoroti penerapan prinsip ESG dalam operasional internal BTN sebagai faktor penting lainnya. Bank melakukan pengurangan penggunaan kertas melalui digitalisasi seluruh proses bisnisnya. Langkah ini tidak hanya efisien, tetapi juga mengurangi jejak karbon bank. Digitalisasi menjadi kunci dalam mencapai operasional yang lebih hijau.

Penggunaan kendaraan listrik untuk operasional bank dan pemasangan panel surya di kantor-kantor BTN juga menjadi bagian dari komitmen ini. Inisiatif ini secara langsung mengurangi emisi gas rumah kaca dan ketergantungan pada energi fosil. BTN berupaya menjadi contoh dalam praktik bisnis yang bertanggung jawab. Energi terbarukan menjadi pilihan utama untuk operasional harian.

Dari aspek sosial, BTN memastikan keseimbangan gender di antara karyawannya, dengan komposisi hampir 50-50 antara pria dan wanita. Selain itu, bank juga aktif mempekerjakan karyawan disabilitas, menunjukkan komitmen terhadap inklusivitas dan keberagaman. Kebijakan ini mencerminkan nilai-nilai sosial yang kuat dalam tata kelola perusahaan. BTN percaya pada lingkungan kerja yang adil dan setara.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi