Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bos Bekraf bongkar praktik ketidakadilan terhadap pengrajin lokal

Bos Bekraf bongkar praktik ketidakadilan terhadap pengrajin lokal Kepala BeKraf - Triawan Munaf. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf, mengakui bahwa saat ini usaha dan kreasi para pembatik belum dihargai dengan laik. Sebab, masih kerap terjadi perlakuan tidak adil terhadap pengrajin batik Tanah Air.

"Nasib pembatik, kalau kita ke toko (yang menjual batik), komisi kepada driver atau orang yang mengantar (wisatawan) itu lebih besar. Ini praktik yang sangat merusak menurut saya. Itu mengerdilkan pembatiknya, mengerdilkan kreatornya," ungkapnya saat ditemui, di Restoran Seribu Rasa, Jakarta, Jumat (29/6).

Dia menyampaikan bahwa praktik ini kerap dia amati ketika berwisata ke beberapa destinasi wisata Tanah Air. "Kalau kita belanja. Pas balik ada komisi buat yang mengantar. Kalau kita belanja Rp 1.000.000 itu Rp 300.000 untuk mereka. 30 persen itu," jelas dia.

Gerah dengan praktik demikian, Triawan mengakui, isu ini sering dia bawa ketika berkomunikasi dengan Pemerintah Daerah. Tujuannya agar segera menertibkan kebiasaan tersebut.

"Saya sudah minta Pemda untuk menertibkan. Nasib pembatik ini berilah mereka 'kemewahan' atas pekerjaan mereka. Yang berbakat terus di push. Kita mesti hargai mereka, talenta dan keuletan mereka," katanya.

"Jadi jangan hanya menguntungkan untuk middle man-nya saja. Si toko-nya seolah-olah tergantung sekali kepada yang mengantar itu," tegasnya.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP