BI Bali Tingkatkan Penyediaan Uang Tunai Rp2,9 Triliun Jelang Nataru 2025/2026 di Tengah Dominasi QRIS

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali memastikan ketersediaan Penyediaan Uang Tunai BI Bali sebesar Rp2,9 triliun untuk momen Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, meskipun transaksi digital QRIS semakin menjadi primadona.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BI Bali Tingkatkan Penyediaan Uang Tunai Rp2,9 Triliun Jelang Nataru 2025/2026 di Tengah Dominasi QRIS
Menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, BI Bali tingkatkan penyediaan uang tunai Nataru hingga Rp2,9 triliun, mengantisipasi kebutuhan masyarakat di tengah dominasi transaksi digital QRIS. (AntaraNews)

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali telah mengambil langkah proaktif dengan meningkatkan alokasi uang tunai menjelang periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Total dana yang disiapkan mencapai Rp2,9 triliun, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Langkah ini diambil untuk memastikan kelancaran transaksi masyarakat di tengah optimisme pertumbuhan ekonomi Bali.

Kepala Perwakilan BI Bali, Erwin Soeriadimadja, menjelaskan bahwa peningkatan ini bertujuan untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan uang kartal atau uang fisik di masyarakat. Meskipun transaksi digital melalui QRIS menunjukkan pertumbuhan yang pesat dan menjadi pilihan utama banyak pihak, kebutuhan akan uang tunai tetap diperhitungkan secara cermat. Ketersediaan uang tunai yang cukup diharapkan dapat mendukung aktivitas ekonomi selama musim liburan panjang.

Penyediaan uang tunai sebesar Rp2,9 triliun ini mencerminkan kenaikan 3,57 persen dibandingkan alokasi pada tahun 2024. Bank sentral di Bali berkomitmen untuk menjamin bahwa kebutuhan uang masyarakat terpenuhi dalam jumlah yang memadai, pecahan yang sesuai, tepat waktu, serta dalam kondisi layak edar. Hal ini menjadi bagian dari upaya BI untuk menjaga stabilitas sistem pembayaran dan mendukung kenyamanan masyarakat.

Antisipasi Kebutuhan Uang Kartal di Musim Libur Panjang

Peningkatan alokasi uang tunai oleh BI Bali menjadi Rp2,9 triliun merupakan respons terhadap proyeksi peningkatan aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Angka ini naik 3,57 persen dari alokasi tahun sebelumnya, menunjukkan antisipasi BI terhadap lonjakan permintaan uang kartal. Erwin Soeriadimadja menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk memastikan setiap transaksi tunai dapat berjalan lancar tanpa hambatan.

Optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan IV-2025 menjadi salah satu faktor pendorong di balik keputusan ini. Dengan semakin menggeliatnya sektor pariwisata dan ekonomi lokal, kebutuhan akan uang tunai diperkirakan akan meningkat. BI Bali berupaya keras untuk memastikan ketersediaan uang dalam jumlah yang cukup, pecahan yang sesuai dengan kebutuhan, serta dalam kondisi fisik yang layak edar.

Bank sentral di Bali tidak hanya fokus pada penyediaan, tetapi juga pada kualitas uang yang beredar. Masyarakat diimbau untuk selalu menjaga dan menghargai uang Rupiah dengan tidak melipat, menstempel, meremas, mencoret, atau membiarkannya basah. Edukasi mengenai ciri keaslian uang Rupiah melalui metode 3D (dilihat, diraba, diterawang) juga terus digencarkan untuk mencegah peredaran uang palsu.

Akselerasi Transaksi Digital QRIS Tetap Jadi Prioritas Utama

Meskipun Penyediaan Uang Tunai BI Bali ditingkatkan, BI Bali tetap gencar melakukan akselerasi transaksi non-tunai, khususnya melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Transaksi digital ini telah menjadi primadona di Bali, menunjukkan adopsi yang semakin meluas di kalangan masyarakat dan wisatawan. Fokus BI adalah penguatan infrastruktur, edukasi masyarakat, dan peningkatan kenyamanan wisatawan dalam bertransaksi non-tunai.

Data menunjukkan bahwa hingga Oktober 2025, volume transaksi QRIS di Bali telah mencapai 134,59 juta. Angka ini mencerminkan tingginya minat dan kepercayaan masyarakat terhadap metode pembayaran digital yang praktis dan efisien. Seiring dengan peningkatan volume transaksi, jumlah gerai dan pengguna QRIS di Bali juga mencapai angka impresif, masing-masing sebanyak 1,05 juta.

Perkembangan ini menandakan pergeseran signifikan dalam kebiasaan bertransaksi masyarakat Bali menuju pembayaran non-tunai. BI Bali terus berkomitmen untuk mendukung ekosistem pembayaran digital yang kuat dan inklusif. Upaya ini sejalan dengan visi BI untuk mewujudkan sistem pembayaran yang modern dan efisien, sekaligus mengurangi ketergantungan pada uang tunai dalam jangka panjang.

Layanan Penukaran Uang dan Edukasi Masyarakat

Untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat akan uang tunai layak edar, BI Bali secara aktif menggiatkan layanan penukaran uang melalui mobil kas keliling. Layanan ini tidak hanya tersedia di kantor BI, tetapi juga menjangkau berbagai lokasi strategis dan bekerja sama dengan perbankan. Sepanjang Desember 2025, layanan penukaran uang telah dilakukan di Kabupaten Jembrana dengan realisasi penukaran mencapai Rp945 juta.

Dalam rangka menyambut Natal 2025, layanan kas keliling juga diperluas ke tempat peribadatan, institusi pendidikan, dan lokasi publik lainnya. Sebagai contoh, penukaran uang di tiga institusi pendidikan di Denpasar pada 9-11 Desember 2025 berhasil mencapai Rp400 juta. Inisiatif ini menunjukkan komitmen BI dalam memastikan aksesibilitas penukaran uang bagi seluruh lapisan masyarakat.

Selain penukaran uang layak edar, masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan penukaran uang rusak, uang cacat, atau uang yang dicabut dari peredaran. Proses pemesanan penukaran ini dapat dilakukan secara daring melalui situs resmi www.pintar.bi.go.id, memberikan kemudahan dan efisiensi bagi masyarakat. BI Bali juga terus mengedukasi pentingnya menjaga kondisi uang Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi