ASDP Terapkan Tiket Manual untuk Jaga Mobilitas Warga Saat Bencana di Aceh

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menerapkan layanan tiket manual dan memperkuat armada untuk memastikan mobilitas warga tetap lancar saat bencana melanda Aceh.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
ASDP Terapkan Tiket Manual untuk Jaga Mobilitas Warga Saat Bencana di Aceh
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menerapkan layanan tiket manual dan memperkuat armada untuk memastikan mobilitas warga tetap lancar saat bencana melanda Aceh. (AntaraNews)

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengambil langkah proaktif untuk menjaga kelancaran mobilitas warga di Aceh yang terdampak bencana. Perusahaan ini menerapkan sistem tiket manual dan memperkuat armada penyeberangan di wilayah tersebut. Langkah ini diambil menyusul gangguan jaringan komunikasi dan listrik akibat banjir yang melanda.

Direktur Operasional dan Transformasi ASDP, Rio Lasse, menjelaskan bahwa gangguan tersebut membuat tiket digital tidak dapat diakses oleh masyarakat. Oleh karena itu, tiket manual kembali dibuka agar masyarakat tetap dapat menyeberang tanpa hambatan teknologi yang ada. Fokus utama ASDP adalah memastikan layanan vital tetap tersedia bagi masyarakat.

Di Kabupaten Aceh Singkil, longsor di Kelurahan Rimo telah memutus akses jalan darat, menjadikan kapal sebagai satu-satunya moda transportasi untuk evakuasi. KMP Teluk Sinabang dan KMP Aceh Hebat 3 disiagakan penuh untuk mengangkut warga, karyawan, serta bantuan menuju Pulau Banyak dan Pulau Sinabang. Ini menunjukkan kesiapan ASDP dalam menghadapi situasi darurat.

Gangguan listrik dan jaringan komunikasi yang terjadi di Aceh menjadi tantangan utama bagi mobilitas warga. "Di Aceh, gangguan listrik dan jaringan membuat tiket digital tak dapat diakses. ASDP segera kembali membuka tiket manual agar masyarakat tetap bisa menyeberang tanpa hambatan teknologi," kata Direktur Operasional dan Transformasi ASDP Rio Lasse.

Penerapan tiket manual ini menjadi solusi cepat untuk memastikan layanan penyeberangan tetap beroperasi. Selain itu, ASDP juga memperkuat armadanya di titik-titik krusial yang terdampak bencana. Dua kapal, KMP Teluk Sinabang dan KMP Aceh Hebat 3, telah disiagakan penuh di Kabupaten Aceh Singkil.

Armada ini berperan vital dalam mengevakuasi warga, mengangkut karyawan, dan mendistribusikan bantuan. Mengingat akses jalan darat terputus akibat longsor, kapal-kapal ini menjadi penghubung utama ke Pulau Banyak dan Pulau Sinabang. Kehadiran armada yang siap siaga ini sangat membantu masyarakat di tengah kesulitan.

Untuk mengatasi masalah komunikasi, Kantor Pusat ASDP mengirimkan telepon satelit ke empat cabang terdampak, yaitu Danau Toba, Singkil, Banda Aceh, dan Padang. "Perangkat ini menjadi tulang punggung koordinasi ketika jaringan seluler nyaris hilang," ujar Rio Lasse, menegaskan pentingnya alat komunikasi alternatif.

Situasi di Sumatera Utara juga tidak kalah menantang, dengan akses jalan menuju pelabuhan yang terputus. Jembatan rusak, tanah longsor, dan jalan runtuh menutup akses sepanjang 7–10 kilometer menuju Sibolga. Sekitar 20 titik lain masih dipenuhi material tanah dan batang kayu besar yang terbawa arus banjir, menunjukkan beratnya kondisi.

Berbeda dengan wilayah pesisir yang parah, Danau Toba justru menjadi titik stabil. Penyeberangan Ajibata, Ambarita, dan Balige tetap beroperasi secara normal, memberikan sedikit kelegaan di tengah bencana. ASDP terus memastikan layanan penyeberangan menjadi jembatan penghubung yang vital.

ASDP menegaskan komitmennya untuk memastikan layanan tetap berjalan dengan fokus utama pada keselamatan. "Kami menjaga agar layanan tetap tersedia, sekaligus memastikan karyawan dan keluarga di daerah terdampak mendapat perlindungan," tegas Rio Lasse.

Sejak cuaca ekstrem melanda, tim ASDP di berbagai cabang di Sumatera bergerak simultan. Mereka mendokumentasikan kondisi akses, menyiagakan armada, memantau cuaca, dan berkoordinasi intens dengan pemerintah setempat. Upaya ini dilakukan demi menjaga optimisme masyarakat bahwa konektivitas antardaerah tidak akan terputus sepenuhnya.

ASDP hadir bukan hanya sebagai operator penyeberangan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya pemulihan masyarakat. "Dengan koordinasi yang solid dan komitmen pada keselamatan, pemulihan Sumatera diyakini dapat berlangsung lebih cepat, selangkah demi selangkah, bersama," tutup Rio, menekankan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi bencana.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi