Apa itu Amartha, Bisnis Milik Stafsus Milenial Jokowi yang Surati Camat?

Rabu, 15 April 2020 11:00 Reporter : Harwanto Bimo Pratomo
Apa itu Amartha, Bisnis Milik Stafsus Milenial Jokowi yang Surati Camat? Founder sekaligus CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra. ©2019 Merdeka.com/Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Nama Staf Khusus Milenial Presiden Jokowi, Andi Taufan Garuda Putra, tengah menjadi sorotan. Namanya menjadi pembicaraan karena sebuah surat dirinya untuk camat se-Indonesia.

Surat yang bertanggal 1 April 2020 dan berkop Sekretariat Kabinet Republik Indonesia itu berisi ajakan kerjasama melawan Covid-19 yang tengah meresahkan Indonesia. Yang menjadi sorotan dalam surat itu ialah kemunculan nama PT. Amartha Mikro Fintek (Amartha) milik Taufan yang disebut sudah menjalin kerjasama dengan pemerintah.

Apa itu Amartha, perusahaan yang didirikan Taufan pada 2010 silam. Dikutip dari situs Amartha dijelaskan mereka merupakan lembaga keuangan yang bergerak untuk memberikan pendanaan usaha kecil dan mikro (UKM).

"Cerita kami berawal dari banyaknya pengusaha mikro yang sulit mendapatkan modal usaha akibat keterbatasan jaminan, fluktuasi pendapatan, dan ketiadaan sejarah kredit. Namun, dengan teknologi yang tepat dan semangat gotong royong, kami percaya mereka dapat menjadi peminjam yang berkualitas. Di sisi lain, berinvestasi dalam usaha mikro terbukti menciptakan dampak sosial."

"Kami percaya kemudahan dalam mendapatkan akses permodalan untuk usaha mikro dapat berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat piramida bawah, membangun ketahanan ekonomi, dan mewujudkan keadilan sosial bagi rakyat Indonesia."

Berkonsep peer to peer lending, Amartha beroperasi dengan mengumpulkan dana masyarakat yang ingin berinvestasi. Kemudian Amartha akan menyalurkannya kepada UKM yang telah bekerja sama. Kesemuanya dilakukan melalui internet atau online.

Nantinya masyarakat, atau dalam hal ini disebut investor, yang telah menaruh dananya di Amartha akan mendapat imbal hasil dari pembagian penghasilan dari UKM terpilih.

"Kita beri tahu kalau dagang ketoprak sehari dapat Rp 100.000 sisihkan Rp 20.000 untuk cicilan, Rp 30.000 untuk bayar utang lain, Rp 50.000 buat keperluan lain. Sederhana tapi kita yakin ini bisa membangun habit dan kedisiplinan peminjam," jelas Vice President of Growth Amartha, Fadilla Tourisqua Zain.

Andi Taufan Garuda Putra menambahkan fintech yang berfokus pada pinjaman produktif dan menyasar peminjam dari kalangan perempuan pengusaha mikro dan kecil ini amat mengedepankan aspek kualitas dari pada kuantitas.

Artinya pihaknya lebih menekankan bahwa peminjam memang mampu membayar pinjaman dibandingkan meningkatkan jumlah peminjam. Diharapkan dengan demikian, lender mendapatkan kepastian dalam berinvestasi.

"Kita lebih penting kualitas. Setiap borrower yang mengajukan pinjaman punya kualitas kredit yang bagus dan itu yang terus dijaga sama kita," ungkapnya.

Hal ini, kata dia, berdampak pada lancarnya proses pinjam-meminjam di platform-nya. Peminjam dapat dengan mudah mendapatkan peminjam. "Kita sehari bisa ajukan sampai 500 calon dan habis (dapat pinjaman) semua," ujarnya.

"Kita juga ada agen di lapangan ya. Jadi di daerah yang belum ada bank sekalipun, masyarakat tidak perlu harus ke bank. Kita (agen) yang nanti ke bank," tandasnya.

1 dari 1 halaman

Awal Mula Bisnis Amartha

bisnis amartha rev1

Taufan bercerita mengenai awal mula Amartha beroperasi. Awalnya, dia memberikan pinjaman kepada satu orang yang membuka usaha warung nasi, dari sana semakin banyak orang yang ingin meminjam uangnya lagi. Namun hal itu tidak berlangsung lama, dia harus mengalami kegagalan.

"Saya mulai kasih pinjam ke satu orang. Mereka berterima kasih karena jika pinjaman bank keliling dikenai bunga. Dari sana, pengusaha warung nasi itu ngundang saya lagi untuk datang karena banyak yang ingin ikut meminjam modal. Namun, mungkin karena saya naif, ternyata itu tidak berlangsung lancar. Karena mereka tidak bisa balikin hutangnya karena ada keluarga yang sakit atau ada usaha lain," ungkap Andi Taufan, saat menjadi salah satu pembicara Entrepreneurs Wanted! di Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung, Senin (18/12/2017).

Dari sana, Taufan belajar dari kegagalannya dan kembali bangkit. "Dari sana saya belajar bahwa memberikan pembiayaan di pedesaan jangan hanya modal dan kepercayaan saja. Akhirnya, saya belajar dari internet, bagaimana cara mau ngasih pinjaman yang baik, bagaimana mengatasi kredit macet, hingga akhirnya saya bekerja sama dengan ibu-ibu yang mau nalangin modal dahulu dan akhirnya berhasil," ujarnya.

"Awalnya bikin Lembaga Keuangan Mikro dengan modal Rp15 juta, di mana Rp500 ribu per orang. Satu tahun jalan bisa dapat seribu orang. Modalnya dari orang tua teman-teman pas kuliah. Bertahap dari sana, saya mulai ke bank-bank dan hingga akhirnya dapat Rp5 miliar. Namun untuk lebih dari itu Rp5 miliar, bank menyarankan untuk ada fix aset," katanya.

Pada tahun 2015, saat internet sedang berkembang dan saat perusahaan miliknya sudah berjalan selama 5 tahun, Taufan akhirnya memilih untuk membuat platform online.

Perusahaan Amartha kini sukses tumbuh menjadi fintech peer to peer lending untuk menghubungkan langsung pengusaha mikro dengan pemodal secara online. Bahkan kini Amartha tercatat telah menyalurkan belasan miliar dan sebanyak 3.000 orang telah bergabung.

"Kalau mau buka bisnis atau berkarya, modal memang penting, namun punya passion, precision, dan misinya juga penting," tutupnya. [bim]

Baca juga:
PKS Minta Stafsus Jokowi Andi Taufan Dicopot Karena Suratnya ke Camat Langgar UU
ICW Soal Stafsus Jokowi Surati Camat: Konflik Kepentingan Pintu Masuk Korupsi
PSI Sarankan Stafsus Jokowi yang Minta Dukungan Camat Agar Mengundurkan Diri
Istana: Stafsus Jokowi Andi Taufan Diberi Teguran Keras Karena Surati Camat
Usai Suratnya ke Camat Tuai Kritik, Stafsus Jokowi Mau Fokus Bantu Desa Lawan Corona
Demokrat Sarankan Jokowi Berhentikan Stafsus yang Minta Dukungan Camat

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini