Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Agar lebih efisien, BPR didorong pakai teknologi terapkan layanan perbankan

Agar lebih efisien, BPR didorong pakai teknologi terapkan layanan perbankan Fraksi PDIP Arif Budimanta. ©2014 merdeka.com

Merdeka.com - Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta mengatakan pengembangan teknologi informasi dalam layanan perbankan bukan hanya menjadi keharusan, tetapi juga memberikan manfaat finansial. Menurutnya, bank yang mengembangkan teknologi digital dalam pelayanannya berpotensi meningkatkan return on equity (ROE) sekitar 45 persen dalam jangka waktu 5 tahun pengoperasiannya.

Berdasarkan riset Statista, pada tahun ini nilai transaksi Finansial technology (Fintech) di Indonesia diperkirakan mencapai USD18,6 miliar atau sekitar Rp 247,7 triliun. Sumbangan terbesarnya berasal dari digital payment yang mencapai USD 18,6 miliar. Sisanya adalah layanan pinjaman dana, baik berupa business finance maupun personal finance.

Arif menegaskan, hasil studi tersebut dapat menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebagai lembaga keuangan atau perbankan komunitas. Hal ini sejalan dengan amanat yang telah ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Peraturan OJK Nomor 75/POJK.03/2016 tentang Standar Penyelenggaraan Teknologi Informasi Bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

"Pasal 2 Ayat 1 peraturan tersebut menyebutkan BPR dan BPRS wajib menyelenggarakan teknologi informasi yang paling sedikit berupa aplikasi inti perbankan dan pusat data bagi BPR atau BPRS yang memiliki modal inti kurang dari Rp 50 miliar. Selain itu, bagi yang memiliki modal inti sedikitnya Rp 50 miliar, menyelenggarakan aplikasi inti perbankan, pusat data dan pusat pemulihan bencana," ujar Arif dalam keterangannya, Rabu (20/9).

Kendati demikian, dia menyadari bahwa pengembangan dan implementasi teknologi informasi di bidang keuangan oleh BPR masih menjadi barang mewah, mengingat biayanya yang sangat mahal. Terutama di tahap awal.

Untuk itulah, dia menyarankan agar organisasi yang menaunginya, yaitu Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) dapat menjadi fasilitator untuk memulai. "Nanti hasilnya dimanfaatkan oleh anggota, dalam hal ini BPR/BPRS," katanya.

Pihaknya pun mendukung pengembangan teknologi di sektor perbankan khususnya di BPR dan BPRS. "KEIN sangat mendukung pengembangan Fintech ini di industri keuangan, khususnya BPR dan BPRS agar lebih efisien," pungkasnya.

(mdk/sau)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP